Namun, jangan sampai perbedaan politik membuat kita kehilangan kemampuan untuk menghargai sikap baik seseorang.
Menghormati Jokowi ketika ia menunjukkan sikap terpuji bukan berarti kita harus menyetujui seluruh kebijakannya. Mengapresiasi keteguhan hatinya bukan berarti kita kehilangan daya kritis.
Inilah kedewasaan dalam berdemokrasi: mampu memisahkan penilaian terhadap kebijakan dari penghargaan terhadap karakter pribadi.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat berapa lama seseorang menjadi presiden, berapa banyak pembangunan yang dilakukan, atau berapa besar kekuasaan yang pernah dimilikinya. Sejarah juga akan mencatat bagaimana ia menghadapi ujian ketika kekuasaan itu sudah tidak lagi berada di tangannya.
Jokowi pernah berada di puncak kekuasaan. Kini, ketika dirinya berhadapan dengan polemik dan proses hukum, ia menunjukkan kesediaan untuk hadir dan memberikan keterangan.
Bagi saya, ada satu pesan sederhana yang dapat kita petik dari peristiwa ini: menjadi negarawan bukan hanya tentang bagaimana seseorang memimpin ketika berkuasa, tetapi juga tentang bagaimana ia menjaga kehormatan, menghormati hukum, dan mengendalikan diri ketika tidak lagi berkuasa.
