Matinya Marhaenisme di Kota Pancasila?

Reporter: Tommy Mbenu Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20260505 WA0000
Sambil menangis, korban penggusuran di Jalan Irian Jaya, Else de Hoog keluar dari rumahnya dengan memeluk erat patung Bunda Maria.

Dari pengakuan Emil Sadipun, RT wilayah tersebut, sebagaimana yang dimuat di Tribuneflores.com, tanah tersebut sempat didatangi oleh Badeoda sebelum ia menjadi bupati. “Sebelum maju jadi calon bupati, bapa Tote Badeoda pernah datang parkir mobil hitam di sini, celana pendek putih, baju kaos putih, pegang dengan meter…Pak Tote ukur dari sudut luar ke sudut sini.” Pengakuan dari Ketua RT tersebut, Tote mengklami bahwa tanah yang dihuni oleh keluarga de Hoog itu adalah tanah milik bapaknya. “Ini saya punya bapak punya tanah,” kata Badeoda seperti yang diucapkan oleh Ketua RT Emil Sadipun.

Pak RT itu kaget mendengar ucapan Badeoda yang mengklaim bahwa itu tanah milik bapaknya. Sepengetahuan Sadipun tanah tersebut adalah tanah milik misi SVD yang diberikan kepada para karyawan misi SVD atas pengabdian dan jasa mereka dalam membantu karya misi tersebut. “Yang kami tahu ini tanah misi, tapi sekarang Pemda bilang ini Pemda punya…” kata Sadipun terheran.

Jadi, ini sebetulnya tanah misi, tanah bapaknya Badeoda, atau tanah milik Pemda? Menarik!

Tag:

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Exit mobile version