Matinya Marhaenisme di Kota Pancasila?

Reporter: Tommy Mbenu Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20260505 WA0000
Sambil menangis, korban penggusuran di Jalan Irian Jaya, Else de Hoog keluar dari rumahnya dengan memeluk erat patung Bunda Maria.

Badeoda adalah Ketua DPC PDIP Kab. Ende, orang yang diberi mandat oleh Megawati Sukarnoputri untuk menghidupkan dan menghidupi marhaenisme di tanah tempat ayahnya diasingkan oleh kolonial. Rasanya tindakan Badeoda yang menggusur rumah keluarga Sadipun itu jauh panggang dari spirit marhaenisme yang diusung oleh PDIP, Megawati, dan Bung Karno. Mungkin dia tidak paham, masih baru.

Badeoda mengklaim bahwa itu tanah milik Pemda, sementara korban penggusuran mendaku bahwa keluarga mereka telah mendiami lahan seluas 75 meter persegi itu sejak tahun 70an. Sejak zaman kakeknya mereka, Rofinus Sadipun, sudah mendiami tanah tersebut atas hibah dari Serikat Sabda Allah (SVD) yang memang sejak abad yang lalu berkarya di Flores. Mereka bahkan punya surat hibah dari Provinsialat SVD sebagai bukti bahwa tanah tersebut memang milik serikat.

Badeoda tidak peduli. Alat berat sejak pagi (4/5) dilabuhkan di depan rumah de Hoog. Bersiap menggusur, tidak peduli ada janda yang histeris hingga sempoyongan, anak-anak yang gelisah dan lapar, aparat tetap ngotot laksanakan perintah. “Kalau tidak terima, silakan tempuh jalur hukum,” kata Camat Pase! Badeoda memang tidak paham ideologi marhaenisme itu. Toh, dia bukan anak kandung ideologis, bukan dari kalangan marhaen seperti Adian Napitupulu!

Tag:

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Exit mobile version