ENDE, RAKYATFLORES.COM-Dua siswa SMA Katolik (SMAK) Frateran Ndao Ende, Jhon Paul Musa Thommbe dan Luv Tiara Chrisantya Roda, baru saja kembali dari Amerika Serikat setelah menyelesaikan program pertukaran pelajar atau Youth Exchange and Study (YES) selama satu tahun.
Mereka bukan hanya belajar di sekolah menengah atas di negeri Paman Sam, tetapi juga mengalami langsung kehidupan sosial dan budaya yang sangat berbeda.
Berikut wawancara eksklusif pemimpin Redaksi RakyatFlores.com Tommy M. Nulangi, M.Pd bersama keduanya, guru pembimbing Yohanes Bechmas, dan Frater Kepala SMAK Frateran Ndao Ende, Fr. Albertus Sukatno, S.Ag.
Pak Yohanes, apa itu program YES dan sejak kapan SMAK Frateran Ndao terlibat?
Program YES adalah program pertukaran pelajar bina antar budaya antara Indonesia dan Amerika. Kami mulai mengenal program ini sejak 2015. Kala itu, siswa pertama kami yang lolos adalah Tamila Sandra. Setelah pulang dari AS, dia melanjutkan studi ke Inggris dan kini sedang mengambil S2 di luar negeri. Setelah itu, ada Olga Sandra yang juga ikut, tetapi terpaksa pulang lebih awal karena pandemi covid-19. Sejak itu, beberapa siswa kami lolos, namun ada yang terhambat karena pandemi covid-19. Baru tahun ini kami berhasil mengirimkan dua sekaligus, Jhon Paul dan Luv.
Bagaimana proses hingga akhirnya kalian bisa berangkat ke Amerika?
Jhon Paul: Prosesnya cukup panjang. Setelah dokumen dikumpulkan oleh Yayasan Bina Antar Budaya, berkas kami dikirim ke Kementerian Luar Negeri AS. Saya ditempatkan di negara bagian Washington melalui organisasi lokal di sana, sedangkan Luv di Minnesota, juga lewat organisasi penempatan berbeda. Kami kemudian dipasangkan dengan keluarga asuh dan didistribusikan ke sekolah di wilayah tersebut.
Luv, adakah persiapan khusus sebelum berangkat?
Luv: Sangat banyak. Sekolah dan guru-guru sangat mendukung dan memberikan gambaran tentang tantangan yang akan saya hadapi. Kami juga dilatih untuk beradaptasi dengan budaya baru.
Apa kesan pertama kalian saat tiba di AS?
Luv: Saya mengalami culture shock. Lingkungan, gaya hidup, dan nilai-nilai di sana sangat berbeda. Kalau di Indonesia kita punya budaya kolektif dan penghormatan yang kuat terhadap orang tua atau guru, di sana lebih santai dan individual. Bahkan guru bisa dipanggil langsung dengan nama.
Bagaimana dengan sistem pendidikannya?
Jhon Paul: Saya hanya mengambil enam mata pelajaran, lima di antaranya adalah kelas Advanced Placement (AP). Ini kelas tingkat kuliah, dan kreditnya bisa ditransfer ke universitas. Saya juga ambil kelas debat sebagai mata pelajaran pilihan.
Luv: Kalau saya delapan mata pelajaran per semester. Ada kelas kimia, sosial-politik, statistik, seni tanah liat, hingga peternakan. Di kelas peternakan, saya belajar menilai kuda, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sangat variatif dan menyenangkan.
Ada pencapaian yang paling berkesan selama berada di Amerika?
Luv: Banyak. Saya ikut teater. Setelah pertunjukan, banyak orangtua murid yang memuji. Saya juga ikut menjadi juri dalam lomba kuda, saya belajar bahwa kuda pun bisa dinilai dari penampilan. Yang paling tak terlupakan, saya terpilih sebagai Prom Queen. Ini bukan karena prestasi akademik, tapi karena interaksi sosial dengan komunitas sekolah. Saya sangat terharu karena saya dari Indonesia, negara yang tidak terlalu dikenal, tapi bisa berdiri sejajar dengan mereka.
Jhon Paul: Saya terpilih sebagai ketua angkatan YES 2025 saat orientasi nasional di Jakarta. Di AS, saya ikut konferensi kemanusiaan yang dihadiri Imam Besar dari Suriah dan Uskup Baltimore. Saya juga sempat masuk sinagoga untuk mempelajari ritual keagamaan mereka. Itu memperluas wawasan saya tentang keberagaman. Selain itu, saya juga ikut kegiatan teater. Meskipun saat pertunjukannya saya sudah kembali ke Indonesia, suara saya tetap dipakai dalam bentuk voice over. Teman-teman bilang mereka sangat terharu.
Setelah kembali, apa yang sudah kalian lakukan di sekolah?
Luv: Saya mencoba memotivasi teman-teman. Banyak dari mereka pintar tapi tidak berani menjawab pertanyaan guru karena merasa dicap nakal. Saya mendorong mereka untuk lebih percaya diri, dan hasilnya mereka mulai aktif.
Jhon Paul: Saya langsung ikut kegiatan Festival Uwi Kaju di Desa Roga, Ndona Timur. Saya sampaikan pesan kepada anak-anak di sana bahwa mereka juga bisa seperti saya asal belajar tekun. Di sekolah, saya juga aktif berdiskusi dengan guru-guru tentang pelajaran dan pengalaman di AS.
Apa rencana kalian selanjutnya untuk sekolah dan lingkungan?
Jhon Paul: Saya akan menghidupkan kembali program english club di sekolah, agar teman-teman bisa lebih percaya diri berbahasa Inggris. Saya juga terbuka untuk kolaborasi seperti talk show atau mentoring.
Luv: Saya akan terus memperkuat program genre di sekolah maupun luar sekolah, karena saya percaya dampak sosial yang luas bisa dimulai dari hal kecil.
Apa tanggapan dari pihak sekolah terhadap prestasi dua siswa ini?
Frater Kepala SMAK Frateran Ndao: Kami sangat bangga karena mereka berdua memperkenalkan budaya Indonesia khususnya NTT dan Ende di Amerika. Setelah kembali, mereka jadi mentor bagi teman-temannya. Kami akan bentuk kelompok belajar bahasa Inggris untuk siswa kelas X hingga XII dengan mereka sebagai penggeraknya. Kami juga ucapkan terima kasih kepada para orang tua dan guru pembimbing.
Apa dukungan sekolah terhadap rencana untuk menghidupkan program English Club?
Sangat kami dukung. Ini adalah misi yang sejalan dengan visi kami membekali siswa dengan keterampilan berbahasa asing untuk masa depan mereka. Kami harap program ini segera ditindaklanjuti.
Tentang Program YES
Program Youth Exchange and Study (YES) adalah sebuah program hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan AS. Tujuannya untuk memperkenalkan budaya kedua negara serta mengembangkan jiwa kepemimpinan generasi muda. Peserta diharapkan menjadi agen perubahan dan berbagi pengalaman setelah kembali ke tanah air.













