Sementara itu, Pegiat Kesehatan Jiwa, Pater Avent Saur mengatakan bahwa, untuk menjaga kesehatan mental, para mahasiswa diharapkan memiliki teman yang dapat dipercayai untuk berbagi cerita atau masalah yang sedang dihadapinya.
Menurunkan, dengan memiliki teman yang dapat dipercayai maka dengan sendirinya ada keterbukaan untuk berbagi.
“Jadi bukan saja kepada Tuhan kita berbagi atau sharing dalam konteks doa, tetapi mesti orang yang nyata. Tuhan tidak nyata kita lihat karena berkaitan dengan spiritualitas,” jelasnya.
Pegiat Kesehatan Mental ini mengatakan, dalam mengelola kesehatan mental, manusia hanya membutuhkan manusia lain untuk mendengarkan cerita hidupnya atau masalah yang sedang dihadapinya meski orang tersebut tidak memiliki kapasitas untuk memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.
“Untuk solusinya baru dicari tahu sendiri. Dengan dia mengungkapkan masalahnya maka hatinya plong. Air mata menjadi kering, dan tidur menjadi nyenyak. Bisa makan lagi, dan bisa beraktivitas lagi,” ungkapnya.













