Scroll untuk baca artikel
ads

Ansy Lema Sosok Penjaga Mutis, Penjaga Konservasi, dan Penjaga Air Pulau Timor

×

Ansy Lema Sosok Penjaga Mutis, Penjaga Konservasi, dan Penjaga Air Pulau Timor

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
1001025803

Mutis merupakan sumber air untuk tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara (TTU), dan Timor Tengah Selatan (TTS). Selain itu, Mutis adalah sumber dari empat sungai utama di wilayah Timor Barat, bahkan hingga wilayah enclave Timor Leste yaitu Oekusi (Ambeno). Empat sungai dimaksud adalah Noel Mina, Noel Besi, Noel Fail, dan Noel Benanain. Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Benanain inilah pemerintah membangun Bendungan Temef yang belum lama ini diresmikan Presiden Joko Widodo.

“Kalau Mutis terganggu karena eksploitasi terhadap kekayaan alam yang tidak bertanggung jawab, masyarakat Timor akan mengalami kekeringan ekstrem. Jika air tidak ada, tidak akan ada kehidupan dan melukai identitas kultural Atoni Pah Meto. Memastikan ketersediaan air mengharuskan lestarinya hutan di wilayah hulu,” tutur pria berdarah Ende-Belu ini.

Advertising
ads
Advertising

Sikap kokoh Ansy Lema ini bertolak pada pendasaran belum adanya studi ilmiah yang secara khusus mengkaji rencana penurunan status tersebut. Belum ada pembuktian secara ilmiah bahwa alih fungsi ribuan hektar menjadi wilayah pemanfaatan tidak akan menganggu keseimbangan ekologis Cagar Alam Mutis. Perlu diingat bahwa semangat konservasi tidak boleh dikalahkan oleh semangat eksploitasi untuk kepentingan komersil.

Baca Juga :   Kunjungi Keluarga Muslim di Alor, Ansy Lema; Saya Yakin Bisa Ada Di Sini Karena Tuntunan Para Leluhur

Mantan Juru Bicara Ahok ini menuturkan bahwa dirinya adalah penjaga konservasi tanah Flobamora. Ia menjadi inisiator utama revisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (KSDAE). Aturan ini sudah terlalu lama dan tidak sesuai dengan keadaan.

Oleh sebab itu, perlu adanya perubahan legislasi yang menitikberatkan pada tanggung jawab negara untuk menjalankan konservasi ekosistem dengan melibatkan partisipasi masyarakat luas. Bahkan, eksistensi dan peran masyarakat adat mengalami afirmasi atau diperkuat.

“Saya berbicara pada level hulu, level yang paling penting dan mendasar dalam menjaga air, yaitu konservasi air. Jika tidak ada sumber air lagi, maka berbagai aspek pada level hilir seperti embung, sumur bor, dan pompa air akan percuma. Dan saya adalah satu-satunya orang yang berjuang untuk konservasi air, untuk keberlangsungan Cagar Alam Mutis,” tutup pria dengan tagline “Manyala Kaka” ini.