Menurutnya, visi Ende Baru yang diusung oleh Paket Deo-Do bukan berati meninggalkan yang lama. Yang sudah baik harus diteruskan, tetapi yang belum baik harus diperbaiki.
“Makanya disitu ada kalimat perubahan dan perbaikan. Perbaikan atas program yang belum baik, dan perubahan atas paradigma berpikir dari yang biasanya menunggu, kita menginisiasi, dari yang biasanya reaktif terhadap laporan, kita lebih banyak mendengar,” ujarnya.
Ia mengatakan, dalam tata kelola pemerintahan, pemimpin harus banyak mendengar masukan dari bawah untuk ditindaklanjuti permintaan masyarakat tersebut. Dengan begitu, maka tidak akan terjadi masalah.
“Kalau Pak Tote nanti mendengar masukan dari bawah, yang eksekusi saya. Jadi wakil bupati bukan hanya ban serep. Saya punya kewenangan sesuai dengan pengalaman saya sebagai birokrat,” ungkapnya.
Domi menambahkan, dirinya sudah malang melintang di birokrasi bukan saja di Kabupaten Ende tetapi juga di Provinsi NTT ketika dipercayakan menjadi kepala dinas kesehatan Provinsi NTT.
“Saya mengurus ribuan pegawai di sana. Begitu juga ketika saya menjadi sekda Ende. Jadi saya dan Pak Tote ingin ada perubahan kepemimpinan yang mengayomi,” ungkapnya.











