Baginya, salah satu persoalan krusial NTT adalah infrastruktur jalan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, sebanyak 390,67 km jalan di NTT masuk dalam kategori rusak dan sebanyak 357,49 km jalan di NTT masuk dalam kategori rusak berat. Tambahan, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat sepanjang tahun 2023, terdapat 390 km jalan provinsi dengan kategori rusak di NTT dan terdapat 101 km jalan nasional dengan kategori rusak di NTT.
Banyaknya jalan yang berstatus rusak di NTT ini menimbulkan multiplier effect atau efek berganda. Persoalan-persoalan turunan bermunculan, mulai dari ini rendahnya pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, serta angka inflasi yang tinggi.
“Karena itu saya telah menyiapkan program NTT Terkoneksi yang akan berfokus pada pembangunan infrastruktur baik di darat, laut dan udara. Infrastruktur adalah urat nadi pertumbuhan ekonomi, sehingga saya harus betul-betul serius mengatasi persoalan ini,” tutur Ansy.
Dalam hal ini, pria yang berpasangan dengan Jane Natalia Suryanto ini mengakui, dirinya tidak akan bertumpu pada APBD Provinsi untuk bisa membangun NTT. APBD Provinsi NTT terbilang kecil sehingga fleksibilitas ruang anggaran untuk pembangunan fisik dan non fisik sangat terbatas. Oleh sebab itu, ia akan mengoptimalkan pembiayaan – pembiayaan non APBD.
“Saya akan bekerja sama dengan Civil Society Organization (CSO) atau Non Governmental Organization (NGO). Juga dengan kerja sama pihak ketiga dengan skema Kerja Sama Daerah dengan Pihak Ketiga (KSDPK) dan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha Swasta (KPBU). Ini saya lakukan untuk mencari terobosan-terobosan baru agar kita bisa bergerak menciptakan berbagai program infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat,” pungkasnya.











