Ia mengatakan, penerbitan SK oleh DPP Perindo kepada Paket JaSA tidak melalui mekanisme yang baik. Sebab, Djafar langsung melakukan manuver politik di DPP Perindo tanpa adanya komunikasi sedikitpun dengan DPD Perindo Ende.
“Tidak pernah merasakan bagaimana susahnya kami mendapatkan suara. Itu suara dari darah dan air mata saya dan teman-teman. Kami boleh hujan, boleh panas, naik turun gunung, tapi dengan gampangnya Pak Djafar ambil partai tanpa sepengetahuan DPD,” ujarnya.
Menurutnya, apa yang dilakukan Djafar Achmad tersebut menunjukkan bahwa dia tidak memiliki etika politik. Sebab, seharusnya ada pembicaraan terlebih dahulu dengan DPD Perindo sebelum menemui pucuk pimpinan di DPP.
“Dan Ini bukan hanya saya sebagai ketua DPD yang sesalkan, tapi di DPW juga sesalkan. Karena saya melalui mekanisme. Kita sudah kirim ke sana tapi hasil akhirnya bukan keputusan dari DPD, tapi keputusan sepihak dari DPP dan Pak Djafar,” ungkapnya.
Ia mengakui, memang tak ada nama Djafar yang dikirim ke DPP, sebab saat itu, Djafar memiliki partainya sendiri yakni PDIP. Namun dalam perjalanan PDIP justru tidak mengusungnya.
“Pak Djafar dan Sani itu kan dari PDI Perjuangan, kenapa PDI Perjuangan tidak mengusung karena memang elektabilitas turun sekali,” jelasnya.











