“Dan terciptanya rasa aman dan tentram dalam kehidupan bermasyarakat untuk menjalankan atau beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing,” ungkapnya.
Tampil sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut yaini H. Ngapirin, S.Ag., M.M, jabatan sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Diklat Keagamaan Denpasar dengan judul materi “Moderasi Beragama dan Pembangunan Nasional” dan RD. Dr. Yosep Aurelius Woi Bule Jabatan sebagai Dosen Tetap pada Sekoiah Tinggi iimu Pastoral (STIPAR) Atmareksa Ende dengan Judul Materi ” Refleksi Kritis Impiementasi Penguatan Moderasi Beragama”.
Sedangkan fasilitator yakni I Wayan iwantara, S.Si., M.Pd Jabatan sebagai Widyaiswara Ahli Madya pada Balai Diklat Keagamaan Denpasar dengan Judul Materi “internalisasi Moderasi Beragama” dan Haris Budi Santoso, S.Pd., M.Pd Jabatan sebagai Widyaiswara Ahli Madya pada Balai Diklat Keagamaan Denpasar dengan
Judul materi “Ekosistem Penguatan Moderasi Beragama”.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementrian Agama Ende, Nikolaus Nama Payon dalam sambutannya mengatakan, visi utama Kemenag adalah mewujudkan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Ende yang saleh dan soleh. Artinya tugas dari Kementrian agama memastikan semua warganya bangga atas agama yang dianutnya dan dengan secara sadar menjalankan kewajiban sesuai dengan agamanya masing-masing.
“Tidak sampai disitu, kewajiban keagamaan harus harus diwujudkan dalam relasi interaksi kemanusiaan sehingga tumbuh dalam dialog-dialog keagamaan yang diharapkan dapat menghadirkan kedamaian dan suka cita,” ungkapnya.
Nikolaus mengatakan, visi kedua kemenag adalah menciptakan umat beragama yang moderat, karena saleh dan soleha tidak cukup. Artinya sebagai warga negara yang kewajiban keagamaan dilindungi oleh UU, maka harus memiliki cara pikir yang benar tentang implementasi kehidupan beragama. Umat beragama harus menghargai kewajiban keagamaan dari umat beragama lainnya.
“Kehadiran kita disini tidak hanya mengikuti kegiatan ini saja secara formalitas saja, tetapi kita dituntut memberi diri untuk merawat kerukunan umat beragama di bumi Pancasila ini,” ungkapnya.













