“Kita memiliki populasi ternak yang besar, tetapi kualitasnya belum tentu baik. Salah satu tantangan yang kita hadapi adalah masih terjadinya perkawinan alami yang berpotensi menyebabkan inbreeding atau perkawinan sedarah sehingga berdampak pada kualitas genetik ternak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil komunikasi dengan berbagai pihak, pengembangan program IB di daerah masih menghadapi dua kendala utama, yakni keterbatasan ketersediaan semen beku dari pejantan unggul serta minimnya tenaga inseminator di lapangan.
Melalui Gerakan Senator Inseminator, Angelius bersama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Balai Inseminasi Buatan Lembang, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya memperluas edukasi sekaligus menambah jumlah tenaga inseminator untuk mendampingi peternak.
Menurutnya, antusiasme masyarakat di Nagekeo menjadi bukti bahwa peternak siap menerima inovasi jika didukung dengan pendampingan yang memadai. Bahkan, sejumlah dokter hewan turut bergabung secara sukarela dalam program tersebut.













