Mewakili Uskup Agung Ende, Vikep Mbay RD Aster Lado menyampaikan ucapan proficiat kepada Pater Silvester. Ia mengingatkan kembali moto yubilaris, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).
“Lewat moto itu, kita diingatkan untuk siap dalam keadaan apapun dan percaya akan penyertaan Tuhan. Hari ini menjadi titik terang bagi kita semua,” ujarnya.
Kisah Perjalanan Imamat
Di balik sukacita perayaan, tersimpan kisah hidup penuh pergumulan dari Pater Silvester. Sejak kecil, ia mengalami cacat fisik dan sempat lumpuh selama empat tahun.
“Saya lahir dengan tubuh yang kecil, lumpuh selama empat tahun, dan baru bisa berjalan di usia empat tahun,” tutur Pater Silvester.
Karena kondisi fisiknya, ia baru masuk sekolah pada usia delapan tahun. Meski demikian, ia dikenal sebagai siswa berprestasi. Namun, setelah tamat SMP, ayahnya meminta ia berhenti sekolah untuk bekerja di kebun dan menjadi penerus keluarga.
Silvester muda sempat menjadi buruh tani hingga kuli pembangunan Bandara Turelelo Soa, Kabupaten Ngada. Hingga akhirnya, berkat dorongan kakaknya, ia melanjutkan sekolah di Sumba.













