Edy mengaku prihatin juga dengan kondisi aparat desa yang jauh dari unit Bank NTT yang ada di kecamatan. Sebab mereka harus bolak balik ke unit Bank NTT untuk mengambil uang.
Solusi lain kata Edy juda ada sebenarnya. Aparat desa diberikan kartu dan aktivasi mobile banking. Dengan begitu, dalam melakukan transaksi ke luar tidak ada limit pembatasan.
“Jadi tetap kita koordinasi dulu. Ini semata-mata kami ingin meringankan beban dari aparat desa. Mungkin saja komunikasinya kurang disampaikan dengan baik sehingga muncul seperti ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, apabila ada aparat desa yang menginginkan pembukaan limit, maka pihaknya bisa mengalihkan skema tabungan dari yang semula flobamora fleksibel ke skema tabungan flobamora biasa dengan catatan dikenakan biaya admin.
“Ini tabungan sudah ada sejak lama. Mungkin komunikasinya kurang. Jadi itu yang mungkin tidak tersampaikan. Secara administrasi mungkin mereka tau bahwa tidak ada biaya admin dan pengendapan, tapi saat pengambilan mereka belum tau karena mungkin belum disosialisasikan dengan baik. Kita tidak usah cari siapa salah dan siapa benar, tapi kita cari solusi yang terbaik,” pungkasnya.
Diberitakan rakyatflores.com sebelumnya, masalah pencairan keuangan desa di Kabupaten Ende masih belum menemui titik terang. Pasalnya, masih ada pengeluhan dari aparat desa yang mengaku mereka tidak bisa mencairkan seluruh uang yang masuk di rekening karena berbenturan dengan aturan pembatasan penarikan uang yang ditetapkan Bank NTT.













