Sementara itu, dari Kecamatan Boawae membawakan tradisi To’a Lako (tradisi pulang berburu). Kecamatan Aesesa Selatan menampilkan tradisi Tau Nuwa (tradisi pendewasaan seseorang), Kecamatan Keo Tengah membawakan Tradisi Ndoto Bheto Pile (tradisi memainkan alat musik dari bambu) dan Ndua Uma Nuka Nua (tradisi pergi dan pulang dari kebun), Kecamatan Nangaroro Esu Kose (tradisi menanak nasi di priuk tanah dan masak daging di bambu untuk dimakan bersama), Kecamatan Aesesa menampilkan tradisi zagho (tradisi sunat adat), dan Kecamatan Wolowae menampilkan tradisi ngoka dan cenda (tradisi mencari udang atau ikan dan tradisi menyanyi sambil memanen padi).
“Jadi tradisi ini semua merupakan kekayaan budaya dari kampung yang dibawa ke festival, karena kampung merupakan destinasi wisata budaya. Disana merupakan sumber peradaban masa lalu sebelum orang mengenal peradaban modern,” jelasnya.
Selain parade, didalam arena festival tersebut disediakan stand-stand untuk pameran UMKM dan stand kuliner yang disediakan oleh PHRI. Para pengunjung juga akan dihibur dengan pementasan seni budaya dan panggung hiburan serta masih banyak kegiatan lainnya.











