Scroll untuk baca artikel
ads

Ebony Love of NTT: Perayaan Iman dan Budaya yang Mengakar di Tanah Rantau Sukses Digelar

×

Ebony Love of NTT: Perayaan Iman dan Budaya yang Mengakar di Tanah Rantau Sukses Digelar

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20250804 WA0006
Panitia bersama umat diaspora NTT di Jakarta foto bersama usai misa inkulturasi NTT di Graha Lestari, Bekasi.

JAKARTA, RAKYATFLORES.COM-Ratusan umat Katolik asal Nusa Tenggara Timur (NTT) memenuhi Graha Lestari, Bekasi, dalam sebuah perayaan misa inkulturasi bertajuk “Ebony Love of NTT“. Momen ini tak sekadar misa, tetapi perayaan iman dan budaya yang menggugah hati. Umat hadir dengan balutan busana adat, lagu-lagu liturgi dibawakan dalam bahasa daerah, dan doa yang menyatu dengan akar tradisi.

Dua uskup dari NTT Yang Mulia Uskup Labuan Bajo Maksimus Regus dan Yang Mulia Uskup Ruteng Siprianus Hormat memimpin misa agung tersebut, didampingi delapan imam dari berbagai paroki di wilayah Jabodetabek.

Advertising
ads
Advertising

Di balik kesuksesan acara ini, terdapat semangat gotong royong dan cinta dari komunitas diaspora NTT di tanah rantau.

Baca Juga :   Misa Inkulturasi NTT di Paroki Bunda Theresa Cikarang: Perayaan Iman dalam Keberagaman Budaya

Untuk menggali makna dan pesan mendalam dari perayaan ini, Pemimpin Redaksi RakyatFlores.com Tommy M. Nulangi mewawancarai penasihat panitia, Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA. Berikut petikan wawancaranya:

Apa makna tema “Ebony Love of NTT” bagi komunitas diaspora NTT?

Kayu ebony itu kuat, tahan lama, dan mengilap dalam gelap. Itu simbol semangat orang NTT tidak banyak bicara, tapi bekerja dari hati. Contohnya, pembangunan Gereja Bunda Teresa di Cikarang. Banyak yang berkontribusi bukan karena kaya, tapi karena cinta. Jadi, Ebony Love of NTT bukan slogan, tapi karakter. Ini soal hati yang tulus dan setia.

Apakah anda melihat karakter orang NTT berbeda dibandingkan masyarakat lainnya di kota besar?

Baca Juga :   Siswa SD Inpres Wolowaru 5 Raih Juara 2 Kategori Puisi pada Festival Budaya Tunas Bahasa Ibu

Ya, sangat terasa. Di tengah zaman yang makin individualistis, orang NTT justru membawa semangat gotong royong, kesederhanaan, dan keteguhan dalam pelayanan. Kami mungkin belum bisa memberi semuanya, tapi kami sudah lebih dulu memberikan hati.

Selain penggalangan dana, apa tujuan utama dari misa inkulturasi ini?

Bukan cuma dana. Ini ruang strategis memperkuat jaringan diaspora NTT lintas usia dan profesi. Kita mewartakan iman sekaligus mempromosikan budaya. Ini bentuk nyata dari pewartaan Injil dalam konteks NTT. Bukan hanya misa, tapi kita menghidupi iman itu.

Apa saja unsur budaya yang ditampilkan dalam misa ini?

Semua umat hadir dengan pakaian adat. Lagu-lagu rohani dan doa dibawakan dalam bahasa daerah. Atmosfernya jadi akrab, hangat, dan bermakna.

Baca Juga :   Ketika Para Tokoh Membaca Buku “Melipat Jarak Kupang-Jakarta Karya Jurnalis Senior Agustinus Tetiro

Ada dua uskup yang hadir. Pesan apa yang paling berkesan dari mereka?

Dalam homilinya, Uskup Siprianus mengatakan bahwa kesetiaan adalah ciri khas orang NTT bukan hanya kata, tapi gaya hidup. Ini jadi refleksi mendalam bagi semua umat.

Apa harapan anda ke depan setelah suksesnya misa ini?

Semoga Ebony Love of NTT menjadi simbol hati yang kuat, tangan yang terbuka, dan jiwa yang setia. Kayu ebony bertahan ratusan tahun, demikian pula cinta dan pelayanan umat NTT. Di tanah rantau kita berpijak, dalam iman dan budaya kita bertumbuh, dan melalui cinta kita membangun rumah Tuhan yang kekal.