ENDE, RAKYATFLORES.COM-Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat menemui Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, di Pendopo Istana Keuskupan Agung Ende, Senin (24/8/2026). Pertemuan tersebut membahas kondisi masyarakat pascagempa yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 serta langkah penanganan dan pemulihan bagi warga terdampak.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat itu, Julie hadir bersama jajaran DPW Partai NasDem NTT, Ketua DPD NasDem Kabupaten Ende Yanus Waro, serta sejumlah pengurus DPD NasDem Ende.
Julie menyampaikan kepada Uskup Agung Ende bahwa dirinya bersama tim NasDem telah turun langsung ke sejumlah wilayah terdampak untuk menyalurkan bantuan sekaligus mengumpulkan data kebutuhan masyarakat.
Menurut Julie, penyaluran bantuan tidak boleh hanya terpusat pada wilayah yang menjadi sorotan atau memiliki akses lebih mudah. Karena itu, ia meminta timnya mendatangi langsung masyarakat hingga ke lokasi-lokasi yang jauh, sulit dijangkau, maupun memiliki kondisi jalan yang rusak.
“Jangan hanya datang ke tempat yang mudah dijangkau. Kami harus mendatangi masyarakat yang membutuhkan, termasuk wilayah yang jauh dan aksesnya sulit,” ujar Julie dalam pertemuan tersebut.
Ia menjelaskan, dalam beberapa hari terakhir timnya dapat mengunjungi sekitar lima hingga tujuh titik setiap hari. Selain menyalurkan bantuan, tim juga melakukan pendataan terhadap kerusakan rumah, sekolah dan gedung-gedung peribadatan, mulai dari kategori ringan, sedang hingga berat.
Pendataan dilakukan dengan berkoordinasi langsung bersama camat, kepala desa, lurah hingga perangkat di tingkat RT. Menurut Julie, pola tersebut penting karena sebagian masyarakat terdampak tidak berada dalam satu lokasi pengungsian, melainkan memilih bertahan di sekitar rumah masing-masing.
Julie mengatakan, kebutuhan masyarakat saat ini masih berada dalam tahap tanggap darurat. Bantuan yang paling dibutuhkan antara lain tenda, selimut, obat-obatan, makanan, kebutuhan ibu hamil serta kebutuhan khusus perempuan.
Ia juga mengingatkan bahwa proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu cukup panjang karena gempa susulan masih terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat pembangunan maupun rehabilitasi rumah belum dapat dilakukan secara maksimal.
“Karena kondisi masih belum stabil dan gempa masih terjadi, proses pembangunan dan rehabilitasi tentu membutuhkan waktu. Saya memperkirakan bisa dua sampai tiga bulan untuk tahap awal ini,” katanya.
Selain kebutuhan fisik, Julie menyoroti kondisi psikologis anak-anak yang mengalami trauma. Banyak anak belum dapat kembali bersekolah karena sejumlah bangunan sekolah mengalami kerusakan.
Untuk membantu mengurangi trauma, Julie mendorong agar anak-anak tetap mendapatkan kegiatan yang menyenangkan selama masa darurat, seperti permainan, kuis dan aktivitas edukatif yang dilakukan oleh guru maupun kelompok sekolah minggu.
Menurutnya, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan logistik. Pendampingan psikologis dan pemulihan kehidupan masyarakat juga harus menjadi perhatian.
Menanggapi hal tersebut, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Julie Sutrisno Laiskodat beserta tim yang telah turun langsung menemui masyarakat dan menyalurkan bantuan kepada para korban gempa.
Uskup Agung Ende juga menyampaikan bahwa penanganan trauma anak menjadi salah satu perhatian penting. Dalam hal ini, STIPAR Ende telah mengirim sejumlah mahasiswa untuk turut membantu program pendampingan masyarakat terdampak.
Julie juga menyoroti kondisi fasilitas kesehatan yang terdampak gempa. Menurutnya, sejumlah rumah sakit atau fasilitas kesehatan mengalami kerusakan sehingga pelayanan medis harus dilakukan di lokasi alternatif.
Ia mencontohkan kebutuhan terhadap ibu melahirkan, obat-obatan dan oksigen yang tetap harus tersedia meskipun fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. Karena itu, menurut Julie, penyiapan pos kesehatan dan tempat pelayanan medis yang layak menjadi bagian penting dalam penanganan bencana.
Dalam pertemuan tersebut, Julie juga berbagi pengalaman mengenai penanganan bencana di wilayah lain yang telah memiliki sistem pengungsian terpadu, lengkap dengan tenda keluarga, pos kesehatan dan kebutuhan dasar masyarakat.
Ia menilai pola tersebut dapat menjadi salah satu contoh yang dipertimbangkan untuk penanganan bencana di Flores, mengingat wilayah ini memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi.
Julie juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan serta partai politik agar bantuan tidak tumpang tindih dan dapat menjangkau masyarakat yang belum mendapatkan bantuan.
“NasDem siap berkoordinasi. Kami menunggu arahan Bapak Uskup, terutama untuk mengetahui wilayah dan kebutuhan masyarakat yang masih belum terbantu,” katanya.
Julie menyampaikan bahwa NasDem akan terus melakukan pendataan dan penyaluran bantuan secara berkala. Ia menyebut bantuan yang telah disiapkan mencapai sekitar 10.000 paket dan distribusinya akan terus dilakukan sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
Ia berharap koordinasi dengan Keuskupan Agung Ende dapat membantu memperluas jangkauan bantuan, terutama ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau dan masyarakat yang belum tersentuh bantuan.
“Saya minta Bapak Uskup terus mendoakan kami agar tetap kuat sehingga kami bisa terus menyalurkan berkat kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Julie.
Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama sebelum Julie dan rombongan melanjutkan agenda penanganan korban gempa di wilayah Flores.













