“Kami mendorong agar serikat pekerja tidak hanya jadi pendengar simbolik, tapi menjadi mitra sejajar dalam menyusun arah kebijakan global. Negara-negara berkembang, termasuk pekerjanya, punya hak atas pemulihan ekonomi yang adil,” kata William dalam siaran persnya, Senin (28/7).
William, juga menyuarakan keprihatinannya atas ketimpangan kebijakan global. Dia mendesak G20 agar tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi menjadikan pekerja sebagai subjek utama pembangunan.
“Negara berkembang seperti Indonesia tidak bisa terus dibebani oleh skema yang berat sebelah,” tegasnya.
Isu yang menjadi perhatian utama dalam hari pertama L20 Summit antara lain: ketimpangan pemulihan pasca-pandemi, krisis geopolitik yang mengancam stabilitas global, serta perlunya transisi hijau yang adil (just transition). Dalam diskusi bertema “Kebijakan Industri Hijau dan Transisi yang Adil”, delegasi Indonesia juga menyuarakan pentingnya perlindungan sosial bagi pekerja sektor terdampak seperti tambang dan energi fosil.













