Scroll untuk baca artikel
ads

Sambut Kardinal Baru Indonesia, Ansy Lema: Ini Keputusan Paus Fransiskus yang Harus Disyukuri

×

Sambut Kardinal Baru Indonesia, Ansy Lema: Ini Keputusan Paus Fransiskus yang Harus Disyukuri

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
1001003613

Dalam ensikliknya Laudato Si, Paus Fransiskus membicarakan tentang ibu bumi sebagai rumah bersama. Bagaimana rumah diibaratkan sebagai Ibu Pertiwi yang menyuap dan mengasuh, serta menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, beserta bunga warna-warni, dan rerumputan.

Pemikiran ini, bagi Mantan Alumni Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) ini, merupakan seruan yang mendalam dan sangat kontekstual dengan NTT. Para petani, peternak, dan nelayan yang merupakan masyarakat dengan tingkat kemiskinan ekstrim adalah kaum papa yang perlu diperhatikan. Di sisi lain, lingkungan NTT yang begitu kaya dengan keindahan dan potensi alam harus dilestarikan.

Advertising
ads
Advertising

“Saya merasa bahwa terpilihnya Mgr Paskalis Bruno Syukur dari OFM ini merupakan bentuk kepedulian nyata dari Paus Fransiskus terhadap alam dan lingkungan di Indonesia. Ditambah, Mgr Paskalis adalah orang dari Manggarai NTT. Masyarakat NTT tentu harus berbangga dan bisa melihat ini sebagai bentuk perhatian Paus Fransiskus terhadap tanah flobamora,” papar Ansy.

Baca Juga :   Kunjungi Kampung Adat Takpala, Ansy Lema; Lestarikan Adat Istiadat, Modal NTT Maju dan Berkarakter

Mantan Juru Bicara Ahok ini menambahkan, ajakan Paus Fransiskus untuk melindungi rumah kita bersama harus bisa diupayakan dalam bentuk pembangunan yang berkelanjutan dan integral di NTT. Tidak boleh merusak alam dengan melakukan komersialisasi atau eksploitasi yang berlebihan.

Baginya, investasi yang dibangun di NTT tidak boleh menyingkirkan semangat konservasi dan pelestarian alam yang berkelanjutan. Karena itu, ketika duduk sebagai perwakilan rakyat NTT di Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Ansy menjelaskan dirinya secara tegas menunjukkan keberpihakannya terhadap isu-isu lingkungan dan konservasi, seperti penolakan komersialisasi Taman Nasional Komodo (TNK) dan penolakan penurunan status Cagar Alam Mutis.

“Kita orang NTT harus bersama-sama melestarikan tanah tempat kita hidup. Kita tidak boleh merusak dan mengeksploitasi alam. Termasuk, kita harus berpihak pada kaum miskin, para petani, peternak, dan nelayan. Saya rasa ini adalah pesan yang
ingin Paus Fransiskus sampaikan kepada kita masyarakat NTT,” pungkas Mantan Aktivis 98 tesebut.