“Saya meminta kerja sama dan kolaborasi baik dari Pemerintah Daerah, PT PLN EPI dan PT Flores Inti Pangan. Lapangan kerja bisa kita buka untuk anak – anak kita dan petani bisa meningkat pendapatan ekonominya,” tutup Angelo
Perwakilan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Nixon M. Balukh, S.P., M.Si. dalam paparannya menyampaikan bahwa potensi limbah pertanian seperti bonggol jagung dan sekam padi dari petani di NTT cukup besar dan bisa dimanfaatkan untuk biomassa ini.
“Pada tahun 2024 diperkirakan 187.000 ton limbah jagung yang diproduksi petani. Kabupaten Sumba Barat Daya dan Timor Tengah Selatan merupakan wilayah penyuplai terbesar limbah bonggol jagung ini. Kalau sekam padi banyak di daerah Ende, Nagekeo dan Manggarai Raya,” ujar Nixon
Menurutnya, apabila ini berjalan maka perlu keterlibatan semua kabupaten terdekat dengan kedua PLTU ini.
Perwakilan PT Flores Inti Pangan, Abraham Runga menyampaikan bahwa saat ini PT Flores Inti Pangan sudah melakukan MoU bersama PT PLN EPI dan Pemerintah Provinsi NTT.
“MoU bersama pemerintah dan PLN EPI sudah dilakukan. Kami juga sedang melakukan persiapan pendataan potensi limbah pertanian dan uji kalori di Sucofindo. Pada bulan Mei ini akan dilakukan uji coba sebesar 300 ton di PLTU Ropa dan PLTU Bolok. Kami tentunya butuh kolaborasi semua pihak sehingga projek besar ini bisa berjalan dan berkelanjutan,” ungkap Abraham.













