Kunjungan itu tentu mempunyai tujuan politik. Mengingkari hal tersebut juga tidak objektif. Namun, menyebut seluruh penyambutan masyarakat sebagai rekayasa politik juga merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana.
Politik dapat mengatur jadwal, menyiapkan panggung, menyebarkan undangan, serta mengoordinasikan peserta. Namun, politik tidak selalu mampu menciptakan rasa rindu, rasa bangga, dan ikatan emosional secara instan.
Penutup
Pada akhirnya, kunjungan Jokowi ke NTT memberikan beberapa pelajaran penting.
Pertama, pengaruh politik tidak berakhir secara otomatis ketika masa jabatan seseorang selesai. Pengaruh tersebut bertahan apabila masyarakat masih mengingat kehadiran, gaya kepemimpinan, dan hasil pekerjaan seorang tokoh.
Kedua, masyarakat NTT memiliki kultur penghormatan yang kuat terhadap tamu. Penyambutan yang meriah harus dipahami tidak hanya dalam kerangka politik, tetapi juga dalam konteks budaya, persaudaraan, dan harga diri masyarakat.
Ketiga, demokrasi harus memberikan ruang yang sama kepada semua pihak. Jokowi boleh mendukung PSI. PSI boleh membangun kekuatan. Partai lain boleh mengkritik dan bersaing. Masyarakat boleh menerima ataupun menolak. Namun, semuanya harus dilakukan secara jujur, damai, dan menghormati hukum.
