“Jadi pada saat transisi dari PAUD ke SD, ada masa pengenalan kurang lebih dua minggu supaya anak ketika masuk kelas satu SD tidak boleh dalam keadaan stres. Ruang itu diberikan kepada anak-anak untuk mengenal lingkungan sekolahnya supaya mereka nyaman berada di sekolah tersebut,” ungkapnya.
Untuk melaksanakan pelatihan tersebut, tambah Mensy, pihaknya menggandeng SEAMEO CECCEP yang merupakan mitra kemendikbud yang memiliki lisensi khususnya di bidang PAUD dan perenting.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BPMP Provinsi NTT, Herdiana menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemda Ende yang sudah bersedia menjadi pilot project dari kegiatan ini untuk mempersiapkan masa depan Indonesia menuju Indonesia emas 2045. Ia mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan untuk mempersiapkan situasi kondisi yang kondusif di lingkungan sekolah tanpa memaksakan akan untuk pergi ke sekolah.
“Dengan anak-anak kita kondisikan, maka anak-anak dengan sendirinya pergi ke sekolah. Seperti di PAUD anak itu senang ke PAUD. Tapi hilang ketika mereka masuk SD. Dan ini perlu kita bekali guru-guru kita. Kita menciptakan ekosistem pendidikan di SD kita agar sama dengan ketika di PAUD. Jadi ketika mereka pergi ke sekolah tidak disuruh lagi oleh orangtua,” ujarnya.
Direktur SEAMEO CECCEP, Prof. Vina Adriany mengatakan bahwa, SEAMEO CECCEP merupakan organisasi yang berada dibawah Kementrian Pendidikan se Asia Tenggara. Saat ini SEAMEO mempunyai tujuh centre di Indonesia dan di Asia Tenggara memiliki total 26 SEAMEO centre.
“Kami merupakan SEAMEO centre yang termuda dan kami fokus pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan keluarga. Selain bekerja dibawah organisasi kementerian pendidikan se Asia Tenggara, kami juga menjadi bagian integral dan tak terpisahkan dari kementrian pendidikan khususnya di Direktorat PAUD, sehingga kami bekerja selain untuk nasional, regional juga untuk lokal,” ujarnya.













