Selanjutnya, Ansy Lema mengungkapkan bahwa dirinya telah terbiasa hidup dalam perbedaan. Ia bercerita bahwa dirinya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang notabene terdiri dari kaum nasrani dan kaum muslim.
Dengan latar belakang tersebut, Calon Gubernur NTT dengan nomor urut satu (1) tersebut mengaku optimis bahwa jika dirinya diberi mandat oleh rakyat NTT untuk menjadi gubernur, ia akan menjadi pemimpin yang terbuka dan merangkul seluruh lapisan masyarakat, khususnya berbagai kelompok agama di NTT. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya ingin menjadi pemimpin yang dapat dimiliki seluruh lapisan masyarakat dan semua kelompok agama.
“Kalau Tuhan berkenan dan rakyat mendukung, saya yakin akan menjadi pemimpin yang mampu merangkul seluruh kelompok agama di NTT. Saya ingin menjadi pemimpin yang dimiliki seluruh kelompok agama,” tegas Ansy.
Ansy juga menjelaskan bahwa ketika berbicara tentang kemajuan di NTT, MUI telah cukup berjasa bagi negeri ini. Menurut Ansy, MUI berada pada derajat atau tingkatan yang sama dengan Keuskupan, Sinode maupun institusi agama lainnya. MUI dan organisasi-organisasi masyarakat Islam adalah mitra negara dalam pembangunan ekonomi rakyat.
Dalam pertemuan ini juga, Ansy berpesan agar semua unsur masyarakat menjaga keutuhan dan persaudaraan antar kelompok agama. Ia menjelaskan bahwa pilkada terjadi lima (5) tahun sekali, namun persaudaraan antar umat merupakan sesuatu yang akan terus ada dalam kehidupan masyarakat.
Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa perbedaan pilihan dalam politik bukanlah alasan untuk memecah belah persaudaraan antar umat beragama di NTT.











