Menurut Politisi Alumni Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) tersebut, hal terpenting yang perlu diperhatikan ketika ekonomi NTT hendak ditingkatkan adalah pemerataan dan keadilan. Kelompok-kelompok minoritas seperti kaum perempuan dan anak, serta disabilitas tidak boleh dipinggirkan dan ditinggal.
Hal ini yang menyebabkan, pria berdarah Ende-Belu ini, beberapa waktu lalu pernah melakukan dialog dengan Komunitas Teman Tuli Kota Kupang. Komunitas ini membutuhkan pemerintah yang sadar dan peduli terhadap penyandang disabilitas. Harapannya, setiap instasi pemerintah mulai dari rumah sakit dan sekolah harus memiliki Juru Bahasa Isyarat (JBI).
“Mereka (kelompok rentan) adalah bagian dari NTT. Mereka harus kita rangkul. Perlindungan, pemberdayaan dan pelayanan publik dengan berbagai kebijakan yang mendukung kesejahteraan mereka harus dilakukan,” tegas pria dengan tagline “Manyala Kaka” itu.
Di sisi lain, kaum perempuan adalah kelompok yang memang sedari awal mendapat perhatian dari satu-satunya Calon Gubernur NTT yang berpasangan dengan perempuan ini. Ansy-Jane mengusung program Desa Manyala, yang di dalamnya berisikan gerakan 1.000 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk perempuan per tahun. Setiap UMKM mendapatkan modal dana sebesar Rp 5 juta.
“Perempuan adalah penjaga gawang kesejahteraan keluarga. Saya dan Jane adalah pasangan yang sangat memperhatikan perempuan. Tagline kita adalah mama bantu mama, perempuan tolong perempuan,” tutup Ansy.











