Cheroline menekankan bahwa Pancasila harus dimaknai sebagai nilai yang hidup dan membumi, bukan sekadar jargon politik. Sila kemanusiaan dan keadilan sosial, menurutnya, menjadi kunci untuk membangun toleransi dan mengatasi berbagai ketegangan sosial yang masih terjadi di Papua.
Dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika, Cheroline mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melihat keberagaman Papua—baik budaya, agama, maupun pandangan politik—sebagai kekuatan, bukan ancaman. Ia menegaskan bahwa negara wajib hadir sebagai penjamin ruang hidup yang adil bagi masyarakat adat serta memastikan pembangunan tidak mengorbankan identitas dan hak-hak dasar mereka.
Sosialisasi ini juga menjadi ruang dialog terbuka. Sejumlah peserta menyampaikan harapan agar nilai-nilai kebangsaan tidak berhenti pada forum sosialisasi, tetapi diwujudkan dalam kebijakan konkret yang berpihak pada rakyat Papua.
Menutup kegiatan, Cheroline menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pendekatan kebangsaan yang lebih humanis dan inklusif.













