Sebagai seorang senator, terang Angelo, ia tidak tinggal diam melihat kondisi lapangan. Ia mendengar jeritan masyarakat yang menolak kehadiran geotermal di Flores. Apalagi sebagai orang yang besar dari gereja katolik, ia berharap, segala bentuk pembangunan yang dilakukan harus mendengar aspirasi masyarakat.
“Saya termasuk yang mendukung Pak Gubernur Melki Laka Lena. Saya yang mendorong penggunaan energi baru terbarukan alternatif selain geotermal. Salah satunya energi biomasa,” ungkapnya.
Sebagai bentuk dukungan, tambah Alumni Pascasarjana UI itu, ia sudah mengundang Direktur Biomasa PT Energi Primer Indonesia (EPI) untuk bertemu dengan Gubernur NTT. Dalam pertemuan bersama tersebut, terdapat MoU antara pemerintah provinsi NTT dengan PT EPI.
“MoU soal komitmen pemerintah provinsi NTT untuk mendukung upaya mencapai Net Zero Emission dengan pengembangan biomassa. Walaupun NTT ini kecil, tapi menarik karena mau tidak mau kita harus menuju green energy,” jelasnya.
Anjelo menambahkan bahwa, pengembangan energi biomassa dalam upaya pemenuhan kebutuhan listrik di NTT mendapat sambutan baik dari masyarakat. Bahkan pemda Timor Tengah Utara (TTU) menyerahkan lahan sekitar 150 hektar untuk penanaman kayu gamal.
Selain itu, tokoh adat di Flores menyerahkan lahan mereka untuk penanaman kayu gamal seperti 50 hektar di Wewaria, 150 hektar di Desa Utetoto, dan sejumlah daerah lainnya di Pulau Flores.













