Meski begitu, ia menekankan pentingnya keberlanjutan dan evaluasi serius dari program-program tersebut.
“Kita tidak ingin Quick Win hanya jadi program rutinitas yang habis masa jabatan ikut habis pula gaungnya. Program ini harus berdampak langsung pada fondasi kehidupan bangsa, terutama pendidikan karakter keindonesiaan,” ujarnya.
Ia menyoroti pentingnya orientasi pembangunan SDM yang tidak sekadar diarahkan untuk menjadi tenaga kerja industri semata, tetapi juga tumbuh sebagai manusia Indonesia seutuhnya yakni ber-Tuhan, adil, beradab, bersatu, penuh kebijaksanaan dan berkeadilan.
“Anak-anak NTT yang kuliah di luar daerah atau di kampus-kampus lokal, semua harus punya semangat yang sama yakni menjadi agen perubahan yang berpihak pada rakyat, bukan sekadar menjadi lulusan yang membanggakan almamater, tetapi membawa makna dan perubahan,” tegasnya.
Ia pun berharap agar program Quick Win bisa terus dikawal dan diperkuat sebagai bagian dari gerakan reformasi birokrasi yang mengakar pada nilai-nilai kearifan lokal, karakter Pancasila, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, serta menjadi kontribusi nyata dalam pembangunan NTT dari desa hingga ke pusat kota.













