Scroll untuk baca artikel
ads

Reses di Toto-Ute Raya, Elias Cima Terima Lima Keluhan Lambannya Pemerintah Respon Sejumlah Usulan Masyarakat

×

Reses di Toto-Ute Raya, Elias Cima Terima Lima Keluhan Lambannya Pemerintah Respon Sejumlah Usulan Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
1001331658 1
Anggota DPRD Nagekeo, Elias Cima, S.Sos., MA melakukan reses di Toto-Ute Raya. (Foto: HO-Dok Pribadi Elias Cima).

RAKYATFLORES.COM | MBAY-Reses masa sidang 1 DPRD Kabupaten Nagekeo dimulai pada tanggal 10-15 Maret 2025. Anggota DPRD Nagekeo kembali ke daerah pemilihannya masing-masing untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilaksanakan setelah masa pelantikan sampai maret 2023 serta mengunjungi konstituennya untuk menjemput langsung aspirasi masyarakat pemilihnya.

Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo dari daerah pemilihan (dapil) Nagekeo II meliput Kecamatan Nangaroro, Keo Tengah dan Mauponggo) dari Partai Perindo Elias Cima juga melasanakan kegiatan reses I di sejumlah titik yakni Malapadhu-Kekadena di Desa Utetoto, Wodomia-Wekaatu-Kekadeki di Desa Odaute, Ndudi-Lelawete-Malasera-Bhondukado di Desa Nataute, dan Kodidewa-Koopodako di Kelurahan Nangaroro.

Advertising
ads
Advertising

Masyarakat konstituen dari masing-masing wilayah kunjungan sangat antusias menyambut anggota DPRD pilihannya dengan ikut aktif terlibat dalam diskusi dan penyampaian aspirasi serta sejumlah harapan.

Baca Juga :   Dua Rumah Warga di Desa Numba Ludes Terbakar, Diduga Korsleting

Kepada anggota DPRD Nagekeo Elias Cima, masyarakat menyampaikan sejumlah usulan dan keluhan, pertama sudah sejak lama masyarakat di wilayah Toto-Ute Raya belum mendapatkan sentuhan pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, Air Bersih dan listrik sampai tuntas. Segmen jalan nunukono malapadhu kekadena belum tuntas dibangun, jembatan malidewa yang menghubungkan Koekobho–Malapadhu-Kekadena sudah diusulkan bertahun-tahun sampai saat ini belum dibangun.

Segmen jalan Nunukono -wodomia-kekadeki-Nunudhele- Aekana sejak dibuka sampai saat ini belum ada peningkatan, masyarakat masih bergumul dengan lumpur dan debu dan bahkan berkubang dengan lubang-lubang sepanjang beberapa titik yang menghambat mobilitas penduduk dan ekonomi. Segmen jalan wodomia kopodako puuperi dibangun asal-asalan bahkan tidak tuntas.

“Longsoran yang sudah lama dilaporkan sampai saat ini tidak ditangani. BPBD tidak hadir untuk menyelesaikan bencana yang menimpa masyarakat,” ujarnya.