Selaras dengan tema festival One Be tahun ini “Kebangkitan Kampung, jelas Emanuel, bahwa kampung merupakan simbol peradaban masa lalu yang sebetulnya sudah tidak ada lagi di negara-negara maju, sementara disaat bersamaan, wisatawan ingin melihat peradaban masa lalu yang ada di Indonesia, NTT, dan Nagekeo khususnya.
“Jadi kampung sebetulnya menjadi jembatan untuk mempertontonkan masa lalu di masa kini. Diharapkan dengan kehadiran kelompok budaya dari tujuh kecamatan ini, mereka terus melestarikan supaya peradaban masa lalu ini tidak tergerus dan sirna oleh peradaban modern,” ungkapnya.
Ia mengatakan, Pemda Nagekeo tidak saja melaksanakan sendiri, namun juga mengundang Dinas Pariwisata dari daerah lain di Pulau Flores untuk bersama menyukseskan kegiatan tersebut. Sebab, berbicara tentang pariwisata maka berbicara mengenai kepentingan kawasan.
“Kita sudah punya Labuan Bajo, diharapkan dapat merambat ke daerah lain di Pulau Flores ini. Itu bisa dicapai kalau para Bupati sedaratan Flores bekerjasama untuk mengoptimalkan potensi wisata yang ada,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata Nagekeo, Silvester Teda Sada menyampaikan bahwa, acara pembukaan festival ini diawali dengan parade budaya dari 7 kecamatan yang ada di Kabupaten Nagekeo dengan tema yang berbeda-beda.
Dari Kecamatan Mauponggo akan membawakan tradisi Bhei Kaju Waja (tradisi memikul kayu bercabang ditengah kampung sebagai simbol persatuan) oleh 16 orang dimana dua orang menunggang dipangkal dan diujung.











