Scroll untuk baca artikel
ads

Catatan Kritis Atas Curhatan Bupati Ende!

×

Catatan Kritis Atas Curhatan Bupati Ende!

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy Mbenu Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20260414 210310
Arianto Zany Namang.

Oleh: Arianto Zany Namang

OPINI, RAKYATFLORES.COM-Saya baru saja membaca curahan hati (curhat) Bupati Kabupaten Ende Yosef Benediktus Badeoda di platform Facebook yang dibagi oleh seorang teman di grup WA. Reaksi fisik yang pertama kali muncul adalah lelah mata karena paragraf yang terlalu panjang terutama pada paragraf kedua dan kelima.

Advertising
ads
Advertising

Paragraf yang panjang membuat pesan yang menarik menjadi tidak menarik apalagi itu ditulis di medsos yang kebanyakan dibaca di HP. Idealnya, satu paragraf berisi tiga-empat paragraf. Tidak lebih.

Selain itu, beberapa kata keterangan tempat (nama tempat) yang harusnya diawali dengan huruf kapital ditulis kecil semua. Contoh di paragraf kedua: “ende”, “nangaboa watumite”, “nioniba maukaro”, “waka”, “ndori”, “reka kakasewa”, “ngaluroga”, “roworeke”, “pulo ende”, dan seterusnya. Ini hal mendasar dalam pelajaran bahasa Indonesia sejak Sekolah Dasar tetapi sepertinya diabaikan oleh bupati.

Baca Juga :   Interpelasi Aturan Berujung Ricuh

Saya membaca teks yang amburadul itu sambil merefleksikan bahwa memang benar kita di NTT krisis literasi. Persoalan baca-tulis masih lemah.