Temuan utama dari tragedi ini menunjukkan bahwa negara, sekolah, dan komunitas tidak memiliki mekanisme yang mampu mengenali dan merespons kerentanan anak sejak dini. Anak tersebut hidup dalam kemiskinan ekstrem, tetapi keluarganya tidak tercatat sebagai penerima bantuan karena persoalan administrasi kependudukan. Sekolah mengetahui keterbatasan ekonomi siswa, namun tidak memiliki sistem pembebasan biaya yang otomatis dan bermartabat. Lingkungan sekitar, mulai dari RT, umat basis, hingga aparat desa, hidup berdekatan secara fisik, tetapi tidak terhubung dalam satu sistem kepedulian yang terstruktur. Gereja menyampaikan pesan cinta kasih setiap Minggu, namun pesan itu tidak menjelma menjadi mekanisme perlindungan sosial yang nyata bagi anak paling rentan. Pemerintah daerah hadir setelah anak itu meninggal, bukan ketika tanda-tanda keputusasaan mulai terlihat.
Inilah inti temuan Major NC tersebut: tidak adanya sistem perlindungan anak yang terintegrasi, berbasis data riil, dan berorientasi pencegahan. Negara terlalu percaya pada data administratif, sementara realitas kemiskinan hidup di luar layar sistem. Sekolah menjalankan kebijakan dengan asumsi semua orang tua mampu, padahal konteks sosial sangat timpang. Kesehatan mental anak dianggap isu sekunder, sehingga bunuh diri diperlakukan sebagai peristiwa kriminal yang selesai setelah visum dan pemakaman, tanpa refleksi kebijakan yang serius.










