Dan kepada masyarakat, aku juga ingin berbisik: jangan biarkan batu itu padam karena diam. Kita bukan penonton pembangunan; kita pemilik rumah ini. Jika periuk kehidupan mulai goyah, maka kita semua harus turun tangan menyusun kembali batu-batu yang retak itu agar api bisa menyala lagi.
Rinduku padamu, Batu Tungku, karena engkau pernah mengajarkan kami arti yang paling dalam dari pembangunan: bahwa kemajuan sejati bukan berasal dari proyek besar, melainkan dari hati yang saling percaya. Bahwa api yang kecil di dapur rakyat jauh lebih berharga daripada lampu besar di gedung pemerintah jika ia menyalakan kehangatan bersama.
Semoga suatu hari nanti, ketika generasi muda Ende duduk di antara rumah dan sekolah, mereka tidak lagi bertanya “apa itu tiga batu tungku?”, melainkan berkata dengan bangga: “itulah cara kami hidup, bekerja, dan saling menopang.”
Karena jika periuk kehidupan sosial ini ingin terus mendidih, maka tiga batu itu harus kembali berdiri tegak bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai arah baru bagi Ende yang sedang tumbuh.













