Ende kini telah lepas dari status daerah 3T, kabar baik yang menandai kemajuan. Tapi ironinya, ketika status naik, nilai justru menurun. Kita punya lebih banyak proyek, tapi semakin sedikit pertemuan hati. Kita punya lebih banyak kebijakan, tapi semakin sedikit percakapan jujur antara rakyat dan penguasa. Batu Tungku, yang dulu menjadi simbol arah, kini hanya menjadi kenangan etnografis di buku-buku budaya.
Maka izinkan aku merindukanmu, Batu Tungku, bukan sebagai romantisme masa lalu, tapi sebagai teguran masa kini. Kita butuh engkau kembali bukan dalam bentuk program seremonial, tetapi dalam praktik nyata pemerintahan. Pemerintah daerah harus berani mengembalikan “roh” kolaborasi itu: duduk kembali bersama agama dan masyarakat, mendengar, merencanakan, dan membangun tanpa jarak.
Aku juga berharap agama kembali menyalakan api moralnya di tengah kebingungan sosial ini. agama tidak cukup beribadah; ia harus kembali menjadi ruang suara rakyat. Suara tentang kemiskinan yang menjerat petani, tentang remaja yang kehilangan arah, tentang pemimpin yang kehilangan rasa malu. Karena dalam falsafah batu tungku, doa dan tindakan tidak pernah dipisahkan.











