Oleh: Patricius Marianus Botha, S.Fil.,M.Si
Dosen STPM Santa Ursula
OPINI, RAKYATFLORES.COM-Rinduku padamu, Batu Tungku-Simbol sederhana yang dulu menjadi nyala api kebersamaan di rumah-rumah Ende. Dari sanalah aroma masakan, cerita keluarga, dan api hidup bersama bermula. Tiga batu yang menopang satu periuk kehidupan melambangkan keseimbangan antara pemerintah, agama, dan masyarakat. Dulu, engkau bukan sekadar benda dapur, tapi falsafah hidup yang menuntun arah pembangunan kita.
Namun kini, aku mencarimu di kantor pemerintahan, di ruang agama, di tengah kampung dan aku tak menemukannya. Batu-batu itu seolah retak dan terpisah. Satu menatap ke utara, satu ke selatan, satu lagi seakan lelah menopang periuk yang sudah tak lagi berisi makanan bersama, melainkan kepentingan masing-masing.
“Program Tiga Batu Tungku” dulu bukan sekadar kebijakan. Ia adalah cara Ende berbicara kepada dirinya sendiri-bahwa kemajuan harus lahir dari gotong royong, bukan dari proyek semata. Pemerintah adalah tangan yang bekerja, agama adalah hati yang menuntun, dan masyarakat adalah napas kehidupan itu sendiri. Jika salah satu melemah, periuk pembangunan akan miring, dan air harapan tumpah ke tanah.











