Keempat, keputusan masyarakat adat untuk memberikan penghormatan harus dilihat melalui nilai dan tata adat mereka sendiri, bukan semata-mata melalui prasangka politik pihak luar.
Seruan “Selamat datang di Rumah NTT” menjadi kesimpulan paling kuat dari kunjungan ini. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian masyarakat, hubungan dengan Jokowi tidak berhenti ketika masa kepresidenannya berakhir.
Jabatan dapat berakhir. Kekuasaan dapat berpindah. Perdebatan politik akan terus berlangsung. Namun, ingatan masyarakat terhadap pemimpin yang pernah datang, menyapa, mendengar, dan bekerja bagi daerahnya dapat bertahan jauh lebih lama.
Orang boleh berbeda pilihan politik. Partai boleh bersaing memperebutkan kepercayaan rakyat. Namun, janganlah perbedaan politik digunakan untuk merendahkan ketulusan masyarakat NTT dalam menerima tamu dan memberikan penghormatan.
Jokowi datang sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia, sebagai tokoh politik, dan sebagai pendukung PSI. Namun, oleh masyarakat yang meneriakkan “Selamat datang di Rumah NTT”, ia juga diterima sebagai seseorang yang dianggap pernah hadir dan menjadi bagian dari perjalanan pembangunan daerah ini.
