Scroll untuk baca artikel
ads

Pesta Intan Dibalik Kabut 75 Tahun Paroki Roh Kudus Detukeli (1951-2026)

×

Pesta Intan Dibalik Kabut 75 Tahun Paroki Roh Kudus Detukeli (1951-2026)

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20260326 171455
Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA foto bersama Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD.

“Di balik kabut Detukeli, tersimpan intan iman yang menerangi kehidupan,” Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA

OPINI, RAKYATFLORES.COM-Dengan penuh syukur dan rasa hormat, saya bersama istri tercinta, menghadiri perayaan pesta intan 75 tahun Paroki Roh Kudus Detukeli pada tanggal 25 Maret 2026. Kehadiran kami bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan sebagai ungkapan cinta yang tulus kepada Lio Utara, khususnya Detukeli tanah yang kaya akan iman, budaya, dan ketulusan hidup umatnya yang selalu membekas di hati.

Advertising
ads
Advertising

Perayaan ini menjadi semakin bermakna karena di dalamnya saya merasakan kegembiraan yang luar biasa ketika dapat kembali berjumpa dengan saudari-saudari dari Detukeli. Pertemuan ini bukan sekadar temu fisik, tetapi perjumpaan hati yang penuh kehangatan, yang menghidupkan kembali kenangan lama, menghadirkan tawa, dan mempererat kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat terpisah oleh waktu dan jarak. Dalam kesederhanaan dan ketulusan mereka, saya melihat wajah asli Detukeli: penuh kasih, persaudaraan, dan iman yang hidup.

Perjalanan panjang Paroki Detukeli sendiri merupakan kisah iman yang tumbuh dalam kesederhanaan dan ketekunan. Bermula dari pelayanan Gereja Jopu pada tahun 1910-1920, kemudian menjadi bagian dari wilayah pelayanan Detusoko pada tahun 1920-1936 karena pertimbangan geografis dan efektivitas pastoral, hingga akhirnya sejak tahun 1933 mulai berkembang sebagai pusat pelayanan tersendiri di bawah bimbingan P. Jan Tol, SVD, yang kemudian dilanjutkan oleh P. Joseph Smeets, SVD. Puncak dari perjalanan itu terjadi pada tanggal 25 Maret 1951, ketika Detukeli resmi berdiri sebagai sebuah paroki. Selama 75 tahun, dengan dukungan para misionaris SVD yang dengan setia melayani, Paroki Detukeli tidak hanya bertumbuh dalam iman, tetapi juga melahirkan banyak paroki baru di wilayah Lio Utara, sehingga layak disebut sebagai “ibu” bagi perkembangan Gereja di daerah ini.

Baca Juga :   Semarak HUT Kemerdekaan RI Ke-79 di Desa Nanganesa, Peserta KKN Uniflor Mengabdi Turut Ambil Bagian

Dalam momentum penuh rahmat ini, saya juga ingin menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tulus kepada para gembala Gereja yang saat ini melayani umat dengan penuh dedikasi, yaitu Romo Paroki Detukeli Pastor Lambertus D. Niron, SVD dan Pater Pembantu Pater Polce Hayon, SVD. Kehadiran dan pelayanan mereka menjadi sumber kekuatan bagi umat dalam menumbuhkan iman, harapan, dan kasih di tengah tantangan zaman. Demikian pula, penghargaan saya sampaikan kepada Bapak Camat Detukeli, Emilianus Nggumbe, yang telah menunjukkan komitmen dalam membangun wilayah ini melalui sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Kolaborasi seperti inilah yang menjadi fondasi penting bagi kemajuan bersama.

Salah satu pesan yang sangat menyentuh datang dari Bapak Uskup, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, yang menggambarkan Detukeli sebagai “Intan di balik kabut.” Walaupun secara geografis sering diselimuti kabut, Detukeli tetap hidup dalam ingatan banyak orang, karena di balik kabut itu tersimpan nilai yang sangat berharga. Intan tersebut tampak dalam iman umat yang kokoh, dalam semangat kaum muda yang penuh harapan, serta dalam anak-anak yang bertumbuh dengan pendidikan dan pembinaan iman yang baik. Mereka semua adalah harta berharga yang harus terus dijaga dan dirawat.

Baca Juga :   Mgr. Maksimus Regus Jadi Uskup Pertama Keuskupan Labuan Bajo

Detukeli juga patut dibanggakan karena telah dikenal secara nasional sebagai Kampung Iklim. Pengakuan ini tidak hanya menjadi prestasi, tetapi juga tanggung jawab untuk terus menjaga dan meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan. Dalam terang ajaran Laudato Si’ dari Paus Fransiskus, umat diajak untuk merawat bumi sebagai rumah bersama sekaligus peka terhadap penderitaan kaum kecil. Prinsip-prinsip dalam ISO 14001:2015 tentang pengelolaan lingkungan yang sistematis dan berkelanjutan menjadi sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat Detukeli, sehingga tercipta keseimbangan antara pembangunan, kelestarian alam, dan kesejahteraan umat.

Sebagai bagian dari umat yang mencintai Detukeli, saya berharap Gereja terus berperan aktif dalam mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas agar masyarakat semakin mandiri dan sejahtera. Selain itu, iman yang kontekstual perlu terus dikembangkan agar Injil semakin menyatu dengan budaya lokal Lio. Gereja juga diharapkan tetap menjadi pilar penting dalam pendidikan dan pembinaan generasi muda, karena merekalah “intan masa depan” yang akan menentukan arah kehidupan masyarakat ke depan. Di sisi lain, kolaborasi yang erat antara Gereja, pemerintah, dan tokoh masyarakat perlu terus diperkuat, serta nilai-nilai budaya dan kearifan lokal harus tetap dijaga sebagai identitas yang memperkaya kehidupan beriman.

Baca Juga :   KM Lebanon Tenggelam di Perairan Pulau Pura Kabupaten Alor, Empat Orang Belum Ditemukan

Perayaan 75 tahun ini bukan hanya perayaan usia, tetapi momentum untuk merefleksikan perjalanan iman sekaligus menatap masa depan dengan penuh harapan. Detukeli adalah Intan Paroki di Balik Kabut kilauannya mungkin tidak selalu tampak, tetapi nilainya sangat besar dan memberikan kontribusi nyata bagi Keuskupan Agung Ende.

Akhirnya, marilah kita semua terus memelihara iman sebagai intan yang bersinar dari Detukeli, menjadi terang dan berkat bagi sesama. Proficiat atas 75 Tahun Paroki Roh Kudus Detukeli. Tuhan memberkati perjalanan iman umat-Nya, kini dan sepanjang masa.