Selain persoalan biaya tenaga kerja, Kabul juga menyoroti dugaan perbedaan jumlah material baja ringan yang digunakan dalam pembangunan Huntara. Ia menyebut, jumlah baja ringan pada pekerjaan vendor pertama diperkirakan berkisar 60-65 batang, sedangkan vendor kedua sekitar 70 batang. Perbedaan tersebut, menurutnya, perlu diperiksa untuk memastikan kesesuaiannya dengan spesifikasi teknis dan RAB yang telah ditetapkan.
Kabul juga mengungkapkan dugaan bahwa vendor pertama tidak menyediakan tenaga tukang dalam proses pembangunan Huntara. Akibatnya, korban bencana disebut harus mencari tukang sendiri untuk membangun hunian sementara mereka. Jika terbukti, kondisi tersebut perlu dievaluasi karena berpotensi menambah beban warga yang sedang berjuang memulihkan kehidupan setelah gempa.
Persoalan lainnya adalah mekanisme penentuan penerima Huntara. Kabul menduga pembangunan tidak sepenuhnya mengacu pada data pendataan awal dan urutan antrean penerima. Ia menilai, penerima manfaat cenderung terfokus pada kelompok tertentu, sementara sejumlah warga yang rumahnya roboh rata dengan tanah justru belum memperoleh Huntara dan masih tinggal di tenda pengungsian.













