“Kenapa senator inseminator menjadi penting, karena populasi sapi kita hanya sekitar 12 juta ekor, sementara kebutuhan daging kita 297 ribu ton dan kita impor pada tahun ini. Begitu juga susu kita impor 4 juta liter. Di kampung-kampung kita kekurangan pejantan-pejantan tangguh karena kalau menjelang idul adha pasti habis. Disitulah kita butuh semen beku dari inseminator buatan,” ungkapnya.
Melalui gerakan ini, kata Angelo, para senator diharapkan turun langsung ke lapangan untuk memfasilitasi pelaksanaan inseminasi buatan pada ternak sapi di wilayah pedesaan.
Ia juga menyinggung pentingnya “revolusi putih”, yakni peningkatan konsumsi susu di kalangan masyarakat, khususnya anak-anak, sebagai bagian dari pemenuhan gizi.
“Bagaimana anak-anak bisa rutin minum susu jika kita masih bergantung pada impor dalam jumlah besar,” ujarnya.
Menurutnya, gerakan ini menjadi langkah strategis untuk mendukung target swasembada pangan yang telah dicanangkan pemerintah, sekaligus mendorong kemandirian protein hewani nasional.













