Harapan Besar untuk Indonesia
Gereja Katolik Roma melalui Bapa Paus Fransiskus di Vatikan menetapkan 2025 sebagai tahun Yubileum. Secara singkat, tahun yubileum bisa berarti: tahun Rahmat Tuhan yang kembali membuka harapan bagi umat manusia untuk mengarahkan hati kepada Tuhan, sesama dan lingkungan hidup. Tahun Yubileum kali ini mengangkat tema: Peziarah Pengharapan (Italia: Peregrinantes in Spem, Inggris: Pilgrims of Hope). Pencanangan tahun Yubileum ini didahuli dengan penerbitan bulla dari Paus Fransiskus berjudul: Harapan yang tidak mengecewakan (Spes Non Confundit).
Manusia memang sangat membutuhkan harapan. Orang bisa saja melupakan segalanya, tetapi jangan sekali-kali menghilangkan harapan. Hanya dengan harapan, orang masih mau melanjutkan kehidupan. Orang Latin menyatakan, Dum spiro, spero (Selama saya bernapas, saya berharap). Hal itu benar, akan tetapi, hal yang sebaliknya justru jauh lebih benar, Dum spero, spiro (Selama saya berharap, saya bernapas).
Dalam konteks bangsa Indonesia, harapan itu memang sangat diperlukan. Warga Indonesia menunggu dengan penuh harapan kinerja baik pemerintahan dan wakil rakyat untuk membawa kesejahteraan bersama. Presiden Prabowo mengatakan mereka baru mulai bekerja. Para kepala daerah baru juga belum dilantik. Harapan pada titik awal ini tentu saja beralasan. Ada banyak hal yang diharapkan. Kehidupan politik yang kondusif, kondisi ekonomi yang stabil, pengembangan kebudayaan yang produktif, keamanan nasional yang terjamin, keberlangsungan dan keberlanjutan alam dan masyarakat adat, supremasi hukum dan hak asasi manusia (HAM), dan hal-hal penting lain.
Menarik bahwa Presiden Prabowo kemudian juga memberikan pesan untuk bersabar. Mengurus bangsa demokratis sebesar Indonesia memang membutuhkan kesabaran. Sikap sabar adalah sebuah keutamaan juga.
Di tengah kesabaran itu, kita masih tetap berharap. Bersabar tentu saja membutuhkan kebijaksanaan. Bersabar tidak boleh berarti menunda-nunda. Bersabar dalam pengharapan berarti terus berproses dan mengevaluasi setiap inisiatif kemajuan yang digagas. Pujangga dan filsuf terkemuka Santo Agustinus dari Hippo, yang juga adalah orang kudus Kristiani, mengatakan bahwa harapan dalam kehidupan bersama (baca: kehidupan politik dan sosial) itu mempunyai dua sisi penampakan. “Harapan memiliki dua puteri nan jelita, nama mereka adalah kemarahan dan keberanian…. Kemarahan karena melihat realitas yang ada (yang negatif), dan keberanian untuk berusaha agar realitas tidak tetap yang sama”
Mari merawat harapan yang tidak mengecewakan











