Ia tidak melarikan diri dari kebingungan atau kesedihan, tetapi memeluknya dalam keheningan iman. Jadi, Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya adalah sebuah sikap kontemplatif, merenungkan makna di balik peristiwa itu dengan iman dan penyerahan diri.
Dan dalam kehidupan kita, seringkali kita menghadapi situasi yang tidak kita mengerti: kegagalan, kehilangan, atau rencana Tuhan yang tampak asing atau aneh bagi kita. Seperti Maria, kita diajak untuk tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, tetapi menyimpannya dalam hati, merenungkannya dalam doa, mempercayakan segala sesuatu kepada Allah yang tahu yang terbaik.
Maria mengajarkan kepada kita bahwa iman bukanlah tentang mengerti segalanya, tetapi tentang percaya, penyerahan diri, bahkan ketika jalan Tuhan masih samar.
Pertanyaan Refleksi:
1. Apakah aku sering gelisah ketika menghadapi hal yang tidak ku mengerti, atau aku menyerahkannya kepada Tuhan dengan damai?
2. Bagaimana aku meneladan Bunda Maria dalam merenungkan karya Allah di hidupku?











