Scroll untuk baca artikel
ads

Ke Surga Bersama Mgr. Paulus Budi Kleden

×

Ke Surga Bersama Mgr. Paulus Budi Kleden

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
1000891797

Menjemput yang terlambat, bagian pertama dari tiga tulisan.

Oleh Yohanes B. Samson
Staf Setda Sikka, Tinggal di Maumere

Advertising
ads
Advertising

Saya percaya, Uskup Budi menjadi figur yang bisa membantu setiap orang di sini yang berkomitmen kuat dan berkehendak baik untuk terus berjuang menuju kualitas pribadi yang lebih baik,

….. terus menjadi lebih baik sampai titik tertinggi yang mungkin dicapai.

RAKYATFLORES.COM | OPINI-Pengumuman resmi Vatikan yang mengangkat P. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD menjadi Uskup Agung Ende membangkitkan harapan dalam hati banyak orang. Harapan itu cukup beralasan bagi beberapa orang yang mengenal atau pernah mengalami kebersamaan dengan beliau, baik sebagai imam, dosen maupun intelektual. Sebagai sosok pemimpin tertinggi sebuah serikat religius dengan enam ribuan anggota, Pater Budi tentu memiliki kapasitas dan kualitas yang mumpuni untuk menjadi gembala umat keuskupan Agung Ende. Melalui kapasitas dan kualitas yang dimilikinya, banyak orang menaruh harapan yang besar nan tinggi pada kegembalaan beliau, bukan saja untuk memimpin sebuah institusi gereja lokal, tetapi terutama mengarahkan seluruh anggotanya pada sebuah visi besar nan agung: ke surga.

Baca Juga :   Pelantikan Anggota DPR RI Dapil NTT 1 dan NTT 2: Sebuah Panggilan untuk Mengutamakan Kesejahteraan Masyarakat

Saya termasuk di antara beberapa orang beruntung yang mengalami langsung kebersamaan dengan Pater Budi dalam porsi yang agak istimewa. Keistimewaan itu saya alami sebagai mahasiswa yang mengerjakan skripsi sebagai bagian dari tugas akhir kuliah dalam bimbingan beliau.

Tim Sekretariat kampus merekomendasikan saya untuk dibimbing Pater Budi yang tidak pernah mengajar saya di kelas; suatu keharusan yang tidak bisa ditawar lagi mengingat tenggat waktu yang semakin mepet menjelang drop out. Ketika menghantar gagasan pokok dan metodologi penulisan, Pater Budi hanya membaca sepintas; mengembalikannya sambil berkomentar, “Ini macam renungan saja ka No….” Komentar ini merujuk pada kebiasaan mahasiswa ekstern yang biasa bikin gara-gara pada ibadat sabda di KBG dan Lingkungan kami tinggal.

Baca Juga :   KUPP Marapokot Sosialisasikan Inaportnet, Keselamatan, dan E- Pas Kecil Bagi Pengguna Jasa

Tentu saja komentar ini meruntuhkan semangat saya, semacam sindiran halus sekaligus menantang: seorang mahasiswa awam yang belajar filsafat dan teologi di luar kerangka menjadi imam tidak kompeten menulis tema abstrak seperti SURGA!

Berhenti atau mundur bukanlah pilihan yang bijaksana bagi mahasiswa semester 11. Saya memutuskan berhenti bekerja untuk fokus menulis skripsi; sekaligus meladeni tantangan Pater Budi: menulis skripsi tentang surga, lebih dari sekadar renungan!

Hari-hari selanjutnya saya habiskan di depan layar komputer, perpustakaan kampus dan kamar Pater Budi. Setiap arahan dan bimbingan beliau saya ikuti dengan tekun, sambil terus mencari referensi ilmiah yang relevan.