Scroll untuk baca artikel
ads

Ke Surga Bersama Mgr. Paulus Budi Kleden

×

Ke Surga Bersama Mgr. Paulus Budi Kleden

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
1000891797

Dalam kurun waktu sebulan lebih saya akhirnya bisa menyediakan sebuah tulisan yang cukup komprehensif: memahami surga dalam cinta. Pemahaman itu dibangun dari perspektif teologi empat agama besar sebagai tempat bersemayam wujud ilahi dan tujuan tertinggi yang dirindukan dan dikejar para penganutnya. Juga dari pendekatan filosofis ilmiah sebagai keharusan hakiki bagi ideal kesempurnaan dan jaminan kekekalan energi yang hanya bisa diubah tapi tidak bisa dilenyapkan. Akhirnya dilengkapi dengan perspektif spiritual mistik sebagai puncak transendensi diri dan evolusi spritual yang berpusat pada Allah sendiri.

Pada pertemuan terakir menjelang ujian, Pater Budi menyentak saya dengan pernyataan ini. “Son, kau tahu tidak, semua orang nanti akan masuk surga…” Saya terdiam agak lama lalu menjawab. “Yang saya tahu, hanya orang yang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, dan menjalani hidupnya dengan cinta…. Yang menolaknya, pasti tidak bisa masuk surga Pater.” Beliau menimpali, “Benar, bahwa keputusan untuk percaya dan menerima serta menghidupi ajaran Yesus adalah kriteria utama, tapi bukankah keputusan itu dibuat dalam kondisi yang tidak memadai untuk memilih surga saja. Karena ketika kondisi itu memadai untuk sebuah keputusan yang benar, semua orang akan hanya memilih surga, bukan neraka”.

Advertising
ads
Advertising

Saya tidak sepenuhnya menangkap maksudnya, dan mempersoalkannya sesudah itu. Bagi saya sudah cukup membanggakan sanggup mempertahankan tema abstrak itu di hadapan tiga doktor penguji, dan bahwa mahasiswa awam juga kompeten membahas tema spiritual nan abstrak, dan dihadiahi nilai A untuk 8 sks!

Baca Juga :   Negara Tak Boleh Abai Orang Kecil; NTT Darurat Kemiskinan, Pendidikan, dan Iman

Life is goes on, dan kontak pribadi dengan Pater Budi berkurang seiring kesibukan masing-masing. Beberapa kali kami mengundang Pater Budi membawakan seminar untuk kepentingan pemerintah daerah tempat saya bekerja, dan Pater Budi meminta saya mengusahakan sertifikat seminar untuk urusan akademisnya di STFK Ledalero.

Ketika mendengar namanya diumumkan sebagai uskup Agung Ende, saya mengenang peran beliau dalam hidup pribadi saya, terutama dalam proses penulisan skripsi yang menantang itu. Pada kata pengantarnya saya menulis kesan dan apresiasi pribadi : Salut dan terima kasih kepada Pater Paulus Budi Kleden, SVD yang telah memperlihatkan kecemerlangan budi seorang intelektual dan kerendahan hati seorang abdi Allah, surga tampaknya sudah begitu dekat.

Baca Juga :   Kembali ke Tanah Air, Perjalanan Rohani Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD Menuju Keuskupan Agung Ende

Tunggu kami Pater, karena kami yang lain terlambat! Pater Budi sudah lama tinggal dan bekerja di Roma, kota abadi pusat kepenuhan kekristenan zaman ini; kini dia kembali ke Ende untuk sekalian orang di sini yang terlambat. Keterlambatan yang saya tulis 21 tahun lalu itu merujuk pada kesenjangan yang timbul dari kepribadian Pater Budi sebagai imam misonaris SVD dan dosen muda bergelar doktor luar negeri yang cerdas sekaligus rendah hati dan sabar; dihadapkan pada kondisi kebanyakan mahasiswa awam waktu itu. Sebagian besar mahasiswa awam tingkat akhir waktu itu merupakan eks frater dari tiga seminari tinggi yang kalau bukan bodoh, pasti malas atau kepala batu, atau ketiga-tiganya. Ada banyak yang harus berhenti sebagai frater karena nilai IPK kumulatif tidak memenuhi standar minimum yang ditetapkan pihak seminari. Ada juga yang orientasi hidupnya bergeser jauh menjadi aktivis politik, sales produk MLM atau pengusaha kelas kampung, atau bahkan ‘cari istri’ dengan modal mahasiswa tingkat akhir!