Maria tidak mengajukan tawar-menawar. Ia tidak bertanya, “Berapa keuntungan yang kudapat jika aku mengiyakan rencana ini?” Atau, “Bagaimana masa depanku nanti?” Dengan ketulusan yang murni, Maria menyerahkan seluruh hidupnya dalam kepasrahan total: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38).
Ketulusan Maria adalah ketulusan tanpa syarat. Ia tahu, risiko disalahpahami, dicurigai, bahkan menghadapi ancaman rajam di masanya sangatlah nyata. Namun, ia memilih untuk taat bukan demi pujian manusia, melainkan karena kasih yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Saat Ketulusan Diuji oleh Realitas Dunia
Namun, meneladani ketulusan Maria di dunia modern bukanlah perkara mudah. Sering kali, dalam keseharian kita, ketulusan justru menjadi ladang empuk bagi orang lain untuk melangkah di atas pundak kita.
Pernahkah Anda merasakan kepahitan ketika kebaikan hati Anda dimanfaatkan? Anda mengulurkan tangan untuk menolong, namun yang datang kembali justru tikaman di punggung. Anda bekerja dengan kejujuran penuh, namun hasil keringat Anda diklaim oleh mereka yang lihai bersilat lidah. Dunia sering kali menertawakan orang yang tulus, menganggap mereka naif, mudah dibaca, dan bodoh.













