Oleh: Arianto Zany Namang
OPINI, RAKYATFLORES.COM-“Tangis kami pecah di batu, duka kami remuk di dada, doa kami bersama-sama untukmu…” sepenggal syair dari lagu Rembulan Menangis karya Ebiet G. Ade pas untuk menikmati senja di sempadan Ndao.
Akhirnya, lapak jualan masyarakat di sempadan pantai Ndao, digusur oleh pemerintah daerah Kabupaten Ende. Ada senyum puas tersungging dari sudut bibir bupati Badeoda sambil membatin “saya menang, para provokator itu kalah!” Ekspresi kepuasan juga terpampang jelas di wajah aparat Pol PP yang mengeksekusi para papalvo atau mama-mama papalele yang berdagang di sempadan pantai Ndao itu.
Kontras dengan selebrasi kemenangan pemda, ada wajah mama-mama papalele yang menahan tangis dan ekspresi anak-anak yang bingung. Mereka sedih bukan karena lapaknya hancur hari ini, tetapi lebih dari itu, mereka harus putar otak untuk move-on dari situasi hari ini, menghidupkan keluarganya, menyekolahkan anak-anaknya. Itu namanya kecemasan! Dalam terminologi filsafat eksistensialisme, kecemasan itu nyaris tidak bisa dieksplanasi, tetapi dialami sebagai pengalaman/situasi batas yang personal.













