Ia menilai, masyarakat di daerah merupakan pihak yang paling memahami persoalan lingkungan dan dampak pembangunan karena mereka berhadapan langsung dengan kondisi di lapangan.
“Kita ingin pembangunan memberikan manfaat ekonomi, tetapi pada saat yang sama tidak meninggalkan persoalan baru bagi generasi berikutnya. Karena itu, suara masyarakat harus menjadi bagian dari proses pengambilan kebijakan,” katanya.
Sementara itu, Pegiat Pemberdayaan Masyarakat yang hadir sebagai salah satu narasumber, Chellys Zangky Tibo, mengatakan pembangunan berwawasan lingkungan membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pengawasan.
“Pembangunan akan lebih kuat ketika masyarakat dilibatkan sejak awal. Mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman langsung mengenai kondisi lingkungan, potensi daerah, maupun persoalan yang dihadapi,” papar Chellys.
Menurut Chellys, pelibatan masyarakat juga penting agar program pembangunan tidak berjalan jauh dari kebutuhan warga. Masyarakat, kata dia, memiliki pengetahuan lokal yang dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas pembangunan.













