Oleh: Patricius Marianus Botha, S.Fil.,M.Si
Dosen Prodi Pembangunan Sosial STPM Santa Ursula
OPINI, RAKYATFLORES.COM-Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Partai Golkar Kabupaten Ende sesungguhnya bukan hanya tentang pergantian ketua partai. Dari perspektif ilmu politik, Musda merupakan arena pertarungan berbagai modal politik yang dimiliki oleh para kandidat. Dalam kerangka pemikiran Pierre Bourdieu, setiap kandidat membawa modal yang berbeda-beda, baik berupa modal sosial, modal politik, modal simbolik, maupun modal kekuasaan. Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar siapa yang paling berpeluang menang, tetapi figur mana yang paling mampu menjawab krisis politik yang sedang dihadapi Golkar Ende.
Harus diakui bahwa Golkar Ende saat ini berada dalam fase yang tidak mudah. Secara historis, Golkar pernah menjadi salah satu kekuatan politik dominan di Kabupaten Ende. Namun dalam beberapa periode terakhir, partai ini terlihat mengalami penurunan pengaruh dibandingkan masa kejayaannya. Dalam perspektif teori institusional partai politik, kondisi ini menunjukkan adanya gejala melemahnya kapasitas organisasi dalam mempertahankan basis sosial dan elektoralnya. Oleh karena itu, pemimpin baru Golkar harus mampu menawarkan lebih dari sekadar stabilitas organisasi. Ia harus menjadi agen transformasi politik.













