Bonus Bisa Habis, Dampak Bisa Abadi
Sejarah menunjukkan, banyak daerah penghasil sumber daya alam di Indonesia justru berakhir sebagai wilayah tertinggal, rusak, dan terpinggirkan. Kita belajar dari banyak kisah: dari tambang di Kalimantan hingga minyak di Riau—bonus yang datang di awal, hanya menyisakan debu di akhir. Jangan sampai Ende mengalami hal serupa.
Bonus produksi geothermal bisa habis dalam satu periode anggaran. Tapi dampak ekologis dan sosial dari eksploitasi panas bumi bisa berlangsung berpuluh-puluh tahun. Gangguan hidrologi, retakan tanah, perubahan suhu mikro, hingga migrasi satwa liar adalah dampak yang tidak selalu langsung terlihat, tetapi nyata adanya. Dan yang paling terdampak adalah masyarakat kecil di sekitar proyek, bukan para pemegang saham di kota.
Jika benar PT SGI ingin disebut sebagai mitra pembangunan daerah, maka mereka harus menggeser orientasi dari sekadar “memberi” menjadi “berbagi dan membangun bersama”. Perusahaan tidak bisa hanya datang dengan alat berat dan laporan produksi, lalu pergi dengan bonus dan pujian. Yang dibutuhkan masyarakat Ende adalah komitmen jangka panjang, transparansi, dan kemitraan yang setara. Tanpa itu, bonus produksi hanya akan menjadi gula-gula pembangunan yang manis di awal, tapi pahit di kemudian hari.











