Pada akhirnya, kewaspadaan gereja terhadap pola “sugar daddy” adalah kewaspadaan terhadap segala sesuatu yang merusak martabat manusia dan merapuhkan struktur sosial. Gereja harus menyadari bahwa pembangunan sosial tidak bisa hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau peningkatan angka pendidikan. Pembangunan sosial yang sejati adalah pembangunan yang memungkinkan setiap manusia hidup dalam relasi yang adil, aman, dan bermartabat. Selama relasi transaksional yang eksploitatif masih tumbuh, selama kampus masih bisa menjadi ruang predator seksual, dan selama perempuan muda masih menjadi korban ketidaksetaraan struktural, maka pembangunan sosial kita masih jauh dari kata berhasil. Gereja harus mengambil bagian untuk memperbaikinya bukan dengan kecaman moral semata, tetapi dengan tindakan nyata untuk membongkar struktur ketidakadilan dan menghadirkan perlindungan bagi mereka yang paling rentan.
Gereja Perlu Waspada pada Pola “Sugar Daddy”










