Oleh: Arianto Zany Namang
OPINI, RAKYATFLORES.COM-Linimasa kita dua hari terakhir ini dipenuhi dengan beredar masif video Bupati Kabupaten Ende, Yosef Benediktus Badeoda, yang menolak berdialog dengan PMKRI. Bupati Badeoda hanya mau berdialog dengan masyarakat yang berjualan di sempadan Pantai Ndao. Sialnya, anak-anak PMKRI dilabeli sebagai “provokator” oleh bupati Badeoda dan karena itu, dia tidak berkenan untuk berdialog dengan mereka meskipun permintaan itu datang dari Kapolres Ende melalui pesan Whatsapp.
Yang menarik bukan ketidakmauan bupati Badeoda, tetapi pesan tersebut disiarkan melalui mikrofon Kantor Daerah yang dibeli oleh uang rakyat melalui pajak. Melalui mikrofon yang dibayar dengan pajak rakyat itu, bupati Badeoda menyatakan tidak mau berdialog dengan aktivis mahasiswa. Ajaib betul, menggunakan fasilitas dari uang rakyat untuk membungkam mulut rakyat yang membiayainya.
Kisah Menara Babel
Jadi begini. Ini bukan tentang mikrofon! Ini tentang kehendak baik setiap pihak untuk memulai berdialog, menyudahi polemik, dan fokus pada pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan bersama. Untuk bisa berdialog, memang perlu rendah hati. Tentang itu, kita bisa belajar dari kisah Menara Babel di dalam Alkitab.













