Dalam alam demokratis, komunikasi sejati dan jujur tidak dicapai dengan memaksa semua orang berpikir dan berbicara dengan cara yang persis sama seperti maunya penguasa. Komunikasi yang bermoral justru menghargai perbedaan sebagai keragaman dan kekayaan. Maka, dialog menjadi penting dan tak terhindarkan.
Robohnya menara Babel terjadi karena semua orang tidak bisa saling memahami satu sama lain. Ketidakpahaman terjadi karena semua mau berbicara tanpa ada yang mau mendengarkan. Dialog mengandaikan adanya pihak yang berbicara dan ada yang mendengarkan. Tapi bupati Badeoda dengan tegas mengatakan “saya tidak mau berdialog dengan anak-anak PMKRI, mereka provokator” ini adalah tanda penguasa yang hanya mau berbicara tanpa mau mendengarkan. Dia tidak mau mendengarkan karena merasa tersinggung dengan kritikan anak-anak PMKRI.
Mirip seperti orang Babel yang hanya mau berbicara tanpa mau mendengarkan Tuhan dan sesama, konsekuensinya adalah relasi dengan Tuhan dan sesama terputus sama sekali. Keterputusan relasional itu menimbulkan situasi yang kacau-balau. Dalam hidup ini kita tidak bisa hanya mau mendengarkan apa-apa yang menyenangkan telinga dan hati, kadang-kadang kita berhadapan dan mendengarkan suara-suara yang bikin panas dada, muka merah, dan bikin sakit hati. Itulah seninya hidup.













