Scroll untuk baca artikel
ads

Jangan Bangun Ende Dengan Muka Keram

×

Jangan Bangun Ende Dengan Muka Keram

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy Mbenu Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20260414 210310
Arianto Zany Namang.

Dalam alam demokratis, komunikasi sejati dan jujur tidak dicapai dengan memaksa semua orang berpikir dan berbicara dengan cara yang persis sama seperti maunya penguasa. Komunikasi yang bermoral justru menghargai perbedaan sebagai keragaman dan kekayaan. Maka, dialog menjadi penting dan tak terhindarkan.

Robohnya menara Babel terjadi karena semua orang tidak bisa saling memahami satu sama lain. Ketidakpahaman terjadi karena semua mau berbicara tanpa ada yang mau mendengarkan. Dialog mengandaikan adanya pihak yang berbicara dan ada yang mendengarkan. Tapi bupati Badeoda dengan tegas mengatakan “saya tidak mau berdialog dengan anak-anak PMKRI, mereka provokator” ini adalah tanda penguasa yang hanya mau berbicara tanpa mau mendengarkan. Dia tidak mau mendengarkan karena merasa tersinggung dengan kritikan anak-anak PMKRI.

Advertising
ads
Advertising

Mirip seperti orang Babel yang hanya mau berbicara tanpa mau mendengarkan Tuhan dan sesama, konsekuensinya adalah relasi dengan Tuhan dan sesama terputus sama sekali. Keterputusan relasional itu menimbulkan situasi yang kacau-balau. Dalam hidup ini kita tidak bisa hanya mau mendengarkan apa-apa yang menyenangkan telinga dan hati, kadang-kadang kita berhadapan dan mendengarkan suara-suara yang bikin panas dada, muka merah, dan bikin sakit hati. Itulah seninya hidup.

Baca Juga :   Ada Apa Dengan Pajak di Ende?
Tag:

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.