Dialog dengan Semua
Tentu saja dialog dengan PMKRI hanya salah satu contoh untuk merespon situasi yang tengah bergejolak. Tetapi yang paling penting di sini adalah wajah pembangunan di Ende harus dibangun di atas fondasi dialog yang konstruktif dan terbuka agar tidak ada satupun pihak yang merasa dirugikan. Dalam konteks yang lebih luas, pemerintah mesti turun ke bawah, ke akar rumput, mendengarkan suara rumput yang bergoyang, untuk mendengarkan apa yang menjadi aspirasi mereka. Selama ini barangkali yang sering terjadi aspirasi dari bawah mentok pada tembok birokratisme dan kebenaran selalu dititahkan dari atas (top-down). Sudah saatnya, pemerintah membuka telinga, mendengarkan aspirasi masyarakat untuk dijadikan pertimbangan pokok dalam setiap pengambilan keputusan (bottom-up).
Suara kritis PMKRI barangkali mengganggu pemerintahan bupati Badeoda, itu sebabnya bupati “ngambek” dan tidak mau berdialog. Saya membayangkan bagaimana mungkin bupati Badeoda dapat mendengarkan suara-suara sunyi di pedalaman yang jauh dari jangkauan ketika yang dekat saja diabaikan dan ditolak untuk berdialog? Toh, tidak semua masyarakat di luar jangkauan itu bermain Tiktok dan Facebook yang setiap saat bisa mencurahakan isi hatinya kepada bupati Badeoda.













